FOXLINE NEWS
Mode Gelap
Artikel teks besar

MUI: MInta Panjatkan Qunut Nazilah untuk Gaza dalam Ramadan Tahun Ini

 


JAKARTA, FOXNESIA - Di tengah denyut spiritual Ramadan 1447 Hijriah yang seharusnya dipenuhi kekhusyukan dan introspeksi diri, sebuah instruksi tegas dari Majelis Ulama Indonesia (MUI) tiba-tiba mengubah atmosfer; ini bukan sekadar imbauan rutin keagamaan, melainkan sebuah seruan perang batin yang memiliki resonansi geopolitik mendalam. MUI secara eksplisit meminta seluruh imam masjid di Nusantara untuk memanjatkan *Qunut Nazilah* dalam setiap pelaksanaan shalat fardu maupun Tarawih, sebuah doa khusus yang ditujukan langsung bagi keselamatan dan kemerdekaan rakyat Palestina yang kini terperangkap dalam krisis kemanusiaan di Gaza.


Qunut Nazilah, doa yang secara historis dibacakan ketika umat Islam dilanda musibah besar, bencana alam, atau malapetaka yang mengancam eksistensi, diminta untuk dipanjatkan tanpa jeda sepanjang bulan suci ini. Keputusan kolektif para ulama tersebut secara gamblang menargetkan penderitaan tak terperikan yang kini dialami oleh warga sipil Gaza, yang terus menerus digempur di tengah kelaparan dan kesulitan akses medis yang mengerikan. Ini adalah langkah yang menegaskan bahwa solidaritas Indonesia terhadap Palestina telah diangkat dari ranah kebijakan luar negeri menjadi sebuah mandat profetik yang wajib dilaksanakan di setiap lini kehidupan spiritual.


Imbauan ini menunjukkan betapa urusan Palestina, bagi mayoritas masyarakat Indonesia, telah melampaui batas-batas diplomasi formal kenegaraan, merasuk hingga ke relung terdalam kesadaran publik. Ketika parlemen, jalur PBB, dan upaya gencatan senjata internasional terasa lamban dan tak berdaya menghadapi realitas di lapangan, mimbar masjid dan sajadah umat menjadi panggung paling autentik untuk menyuarakan protes dan harapan. Doa, dalam konteks ini, bukan lagi sekadar ritual pasif, melainkan sebuah bentuk perlawanan moral dan aktivisme spiritual yang terorganisasi.


Kiai Haji Cholil Nafis, Ketua MUI Bidang Dakwah dan Ukhuwah, yang suaranya selalu bernada tegas dalam isu-isu umat, menekankan pentingnya mobilisasi spiritual ini. "Kita tidak bisa hanya melihat derita saudara kita di Gaza. Tangan kita mungkin terhalang untuk mengirim bantuan fisik setiap hari karena jarak dan blokade, tapi kekuatan doa adalah rudal spiritual kita yang tak terhalang batas negara," ujar Kiai Cholil dalam keterangan persnya yang bernuansa seruan. "Ramadan ini harus menjadi momen *ijtihad* kemanusiaan kolektif. Ya, kita puasa, tapi kita juga harus berjuang lewat doa yang tak pernah putus bagi kemerdekaan mereka."


Mobilisasi spiritual semacam ini memiliki efek riak yang luar biasa dan sulit diukur secara statistik. Jutaan jamaah yang mengikuti shalat Tarawih dan witir secara serentak di seluruh kepulauan akan mendengar narasi penderitaan Gaza, bukan dari siaran berita yang cenderung kering, melainkan dari lisan imam mereka sendiri yang membacakan doa dengan suara bergetar penuh harap. Masjid-masjid, yang dalam keseharian harus steril dari hiruk pikuk politik praktis, kini difungsikan sebagai episentrum kesadaran global, menanamkan benih empati yang mendalam terhadap isu Palestina sejak dini kepada generasi muda yang turut serta dalam jamaah.


Sejarah mencatat, penggunaan *Qunut Nazilah* bukanlah perkara main-main atau diputuskan secara terburu-buru. Praktik ini biasanya dicadangkan untuk momen-momen genting yang benar-benar mengancam eksistensi umat atau kemanusiaan, seperti saat tsunami Aceh meluluhlantakkan pesisir pada 2004, atau ketika muslim Bosnia menghadapi genosida di masa lalu. Dengan menyandingkan krisis Gaza pada kategori yang sama, MUI secara implisit menempatkan tragedi di Palestina pada skala bencana kemanusiaan tertinggi dan memberikan legitimasi teologis bagi urgensi dukungan tanpa syarat dari Indonesia.


Keputusan MUI ini, yang secara fundamental menegaskan kembali posisi Indonesia sebagai mercusuar dukungan bagi kemerdekaan Palestina sesuai amanat konstitusi yang menolak segala bentuk penjajahan di atas dunia, merupakan manifestasi konkret dari kearifan lokal yang bertemu dengan isu global. Ia mengirimkan sinyal diplomatik yang amat jelas bahwa tekanan moral dan spiritual terhadap entitas yang menyebabkan penderitaan di Gaza harus terus ditingkatkan, bahkan jika itu harus dimulai dari ritual sunyi di sepertiga malam terakhir Ramadan. Ini adalah diplomasi yang lahir dari sajadah, sebuah kekuatan yang seringkali diabaikan, namun memiliki daya dorong massal yang tak tertandingi.

Tutup Iklan
Hubungi Kami untuk Beriklan