FOXLINE NEWS
Mode Gelap
Artikel teks besar

Mengobati Luka Bumi Lewat Transformasi Moral Bangsa


OPINI, Foxnesia.com - Indonesia, termasuk kota kita tercinta Makassar, sedang berada dalam kondisi "Darurat ekologis" yang sangat mengkhawatirkan. 

Berbagai fenomena bencana seperti banjir bandang dan polusi udara bukan sekadar gangguan teknis, melainkan manifestasi dari krisis moral dan spiritualitas manusia yang telah kehilangan arah. 

Sebagai kader IMM, kita harus menyadari bahwa luka pada bumi pertiwi ini adalah panggilan bagi kita untuk bergerak.

Integrasi ekoteologis hadir sebagai tawaran radikal untuk menata kembali bangsa ini. Kita diingatkan melalui QS. Ar-Rum: 41 bahwa kerusakan di darat dan laut adalah akibat perbuatan tangan manusia sendiri. 

Kita adalah Khalifah fil Ardh, wakil Tuhan di bumi yang diberikan mandat bukan untuk mengeksploitasi, melainkan untuk menjaga keseimbangan ilahiyah. 

Transformasi moral adalah satu-satunya obat untuk menyembuhkan bumi yang sedang sakit ini.

Perjuangan kita dalam melestarikan lingkungan harus berpijak pada "Kompas moral" para Nabi :

1. Seperti Nabi Sholeh A.S., kita harus berani melawan keserakahan oligarki yang memonopoli sumber daya alam demi keadilan bagi sesama makhluk.

2. Seperti Nabi Yusuf A.S., kita harus mengedepankan manajemen krisis yang bijaksana dan menjauhi sikap boros atau israf dalam setiap aspek kehidupan. 

Seperti Nabi Nuh A.S., kita memiliki tanggung jawab teologis untuk melindungi keanekaragaman hayati karena setiap spesies memiliki hak untuk hidup.

3. Seperti Nabi Sulaiman A.S., kita harus menanamkan kasih sayang (rahmah) terhadap seluruh penghuni semesta, bahkan kepada makhluk terkecil sekalipun.

 Wahai kader IMM Makassar, upaya mengobati luka bumi harus dimulai dari pembenahan etika dan spiritualitas diri kita sendiri. 

Mari kita jadikan integrasi ekoteologis sebagai fondasi dalam setiap kebijakan publik dan gaya hidup masyarakat. Inilah saatnya kita melakukan "hijrah ekologis" menempatkan iman dalam setiap langkah pelestarian demi mewujudkan negeri yang Baldatun Thayyibatun wa Rabbun Ghafur.

Menata Indonesia berarti memulihkan moralitas di atas tanah yang lestari.
Billahi Fi Sabililhaq, Fastabiqul Khairat.

Penulis : Sarlinda Sopalatu
(Kader Pikom IMM FT Unismuh Makassar)

Tulisan Tanggung Jawab Penuh Penulis
Tutup Iklan
Hubungi Kami untuk Beriklan