Jejak Horor Senjata Termal di Gaza: MUI Desak Dunia Hentikan Penyerangan Israel
| Gedung Majelis Ulama Indonesi (Foto:MUI) |
JAKARTA, Foxnesia.com - Di tengah hiruk pikuk diplomasi yang terasa hambar dan kerap kali buntu, sebuah tuduhan mengerikan kembali mengemuka dari puing-puing Gaza, menyeret perhatian Majelis Ulama Indonesia (MUI) untuk angkat suara secara keras dan mendesak.
Ini bukan sekadar laporan statistik korban tewas biasa; ini adalah narasi yang jauh lebih gelap, sebuah kisah tentang jasad yang 'menguap', hilang tanpa bekas, sebuah horor yang disinyalir kuat akibat penggunaan bom termal atau yang dikenal sebagai vacuum bomb oleh militer Israel.
Investigasi mendalam yang dilakukan oleh jaringan berita Al Jazeera, merobek selubung keheningan atas metode perang yang brutal dan di luar nalar. Laporan tersebut mengungkapkan dimensi baru kekejaman: ribuan jenazah warga sipil Gaza, khususnya di area padat penduduk, tidak dapat diidentifikasi atau bahkan ditemukan, seolah lenyap ditelan bumi.
Senjata termal, atau Thermobaric Weapon, bekerja berdasarkan prinsip fisika yang brutal dan merusak. Ledakan awal menyebarkan aerosol eksplosif ke udara, diikuti ledakan kedua yang menyedot oksigen dari area target, menciptakan kehampaan (vakum) mematikan.
Dampak yang ditimbulkan bukan hanya mematikan secara instan, tetapi juga menghilangkan bukti fisik korban. Ketika oksigen dihisap habis, tekanan internal pada tubuh manusia meningkat drastis, menyebabkan kerusakan organ internal yang parah tanpa meninggalkan jejak pecahan peluru eksternal yang jelas.
Penggunaan senjata ini secara sistematis terhadap populasi sipil jelas merupakan kejahatan perang yang tak termaafkan dan harus disikapi secara tegas oleh instansi hukum internasional.
Sungguh, pemandangan ini jauh melampaui batas-batas perang konvensional, merobek nalar kemanusiaan yang tersisa. Ketua MUI Bidang Hubungan Luar Negeri dan Kerja Sama Internasional, Sudarnoto Abdul Hakim, dengan nada bicara yang tegas namun sarat keprihatinan, mendesak komunitas internasional untuk segera bangun dari tidur panjangnya yang memalukan.
Ia menyoroti bagaimana penggunaan senjata termal ini bukan hanya membunuh, melainkan juga menghapus hak keluarga untuk berduka di atas pusara.
"Kami tahu, dunia seringkali menutup mata atau hanya mengeluarkan resolusi basa-basi yang tidak bertaring. Tapi kali ini, buktinya terlalu menyeramkan untuk diabaikan. Ketika jasad saja tidak ditemukan, bagaimana keluarga bisa berduka? Itu hak paling mendasar," ujar Sudarnoto, seakan berbicara kepada dinding global yang tuli.
PBB, negara-negara adidaya, dan semua yang mengklaim menjunjung tinggi HAM harus segera bergerak. Hentikan praktik barbar ini dan selidiki secara tuntas.
Senjata jenis ini, yang dikenal memiliki daya hancur masif dan efek trauma psikologis yang luar biasa—karena korbannya menderita kerusakan organ internal yang parah akibat tekanan vakum—telah lama diperdebatkan dalam koridor hukum internasional, meskipun secara spesifik belum dilarang total seperti senjata kimia atau biologis.
Namun, para ahli hukum perang menekankan bahwa penggunaannya di wilayah padat sipil, seperti Rafah atau Khan Younis, merupakan pelanggaran berat terhadap Prinsip Pembedaan (Distinction) yang menjadi pilar Hukum Humaniter Internasional.
Desakan MUI tidak berhenti pada kecaman moral semata; mereka menuntut sebuah investigasi independen yang transparan dan tanpa intervensi politik. Sebuah tim forensik internasional, yang terdiri dari pakar netral, wajib segera dibentuk untuk memverifikasi tuduhan penggunaan bom termal di wilayah Jalur Gaza yang paling parah terkena dampak.
Selain itu, Mahkamah Pidana Internasional (ICC) diharapkan mampu menunjukkan taringnya, menyeret para komandan dan pembuat kebijakan yang bertanggung jawab atas eskalasi penggunaan senjata non-konvensional ini ke meja hijau.
Jika kejahatan perang yang mampu melenyapkan bukti fisik—sebuah metafora mengerikan untuk penghapusan eksistensi—dibiarkan tanpa konsekuensi, maka standar moral peradaban kita telah mencapai titik nadir yang paling memilukan.
Apakah dunia akan terus menyaksikan horor ini dari kejauhan, hanya menyimak laporan tentang 'penguapan' manusia seperti kisah fiksi ilmiah yang keji? Ini adalah ujian bagi nurani global, sebuah drama nyata tentang kemanusiaan yang tergerus oleh kepentingan geopolitik yang dingin dan kebisuan yang memuakkan.
Red