Pemuda dan Sumpah Janji: Kita Sudah Bersumpah, Sudahkah Kita Menepati?
Oktober 28, 2026
OPINI, Foxnesia.com - Pada tanggal 28 Oktober, setiap tahun kita tidak hanya sekedar balik kalender sejarah, tetapi bagaimana memaknai Sumpah Pemuda. Bukan hanya sekedar sumpah, tetapi janji untuk bertumpah darah satu, berbangsa satu, berbahasa satu.
Esensi Sumpah Pemuda: Historis vs Realistis
Sumpah Pemuda 1928 bukanlah sekedar membaca. Itu adalah peristiwa dimana pemuda tidak sekedar mengucap janji suci untuk bertumpah darah satu. Mereka mengikat diri. Darah mereka menjadi satu Indonesia. Hari ini, kita mengulang kalimat yang sama, namun apakah ikatan itu masih ada?
Esensi sumpah itu bukan pada apa yang dihafal sekarang, melainkan pada pengorbanannya. Dulu mereka mengorbankan diri. Sekarang pertanyaannya terbalik: masihkah kita berani mengorbankan ego, gengsi kelompok, dan kepentingan pribadi demi kata yang sama, yaitu Indonesia? Jika tidak, maka yang kita peringati setiap tahun hanya teksnya, bukan jiwanya
Kita lihat fenomena dimana janji Sumpah Pemuda sering kali hanya dihafal dan dibacakan setiap tahunnya. Upacara selesai, seragam rapi dilipat, status media sosial di-upload, lalu janji itu kita lipat juga.
Refleksi dan Akuntabilitas Pemuda Hari Ini
Setelah puluhan tahun janji itu berlalu, dimana kontribusi kita? Jika 1928 mereka memberikan nyawa untuk kemerdekaan, apa yang kita berikan hari ini?
Menurut pandangan para sejarawan, sosiolog, dan pengamat kepemudaan, "penjajah" pemuda yang sebenarnya di era modern bukanlah bangsa asing dengan senjata fisik, melainkan penjajahan terhadap kesadaran (psikologis, mental, dan spiritual) akibat dampak negatif digitalisasi, krisis identitas
Realita pemuda hari ini justru terancam oleh penjajahan baru: Judi Online, Pinjaman Online, hoax, dan rasa malas. Kita mengaku satu nusa, tapi tidak kenal tetangga. Kita mengaku satu bangsa, tapi ribut di kolom komentar. Kita mengaku satu bahasa, tapi bahasa sehari-hari kita adalah bahasa ghibah dan flexing.
Akuntabilitas pemuda bukan lagi soal turun ke jalan, tapi soal berani bertanggung jawab atas lingkungannya.
Menjaga Tanah Air Zaman Now.
Jika dulu menjaga Tanah Air artinya menjaga wilayah secara fisik dari Belanda dan Jepang, maka sekarang menjaga Tanah Air artinya menjaga kehidupan sehari-hari yang paling dekat dengan kita.
Menepati janji Sumpah Pemuda bukan lagi soal mengangkat senjata
tapi berubah bentuk,
Bergerak bersama dalam aksi kemanusiaan, sosial dan komunitas peduli lingkungan
Maka pada 28 Oktober tahun ini, mari kita tidak hanya bersumpah lagi, mari kita menepati. Karena bangsa ini tidak butuh pemuda yang hanya hafal sumpah, bangsa ini butuh pemuda yang menepati janjinya.
Maka pada akhirnya, Sumpah Pemuda bukanlah untuk dikenang, melainkan untuk ditagih.
Kita sudah bersumpah atas nama darah, bangsa, dan bahasa. Tapi sejarah tidak akan mencatat seberapa lantang kita berucap di lapangan. Sejarah hanya mencatat seberapa berani kita menepatinya dalam tindakan perbuatan kita
Penulis : Faradina (Co.Founder Cakrawala Perempuan.Id)
*Tulisan tanggung jawab penuh penulis*