FOXLINE NEWS
Mode Gelap
Artikel teks besar

Inovasi Pertanian Mahasiswa Unhas di Bone Tingkatkan Produktivitas Padi hingga 5,3 Ton per Hektare


BONE, Foxnesia.com – Inovasi pertanian yang dikembangkan mahasiswa Universitas Hasanuddin melalui Program Mannennungeng menunjukkan hasil dalam peningkatan produktivitas dan efisiensi budidaya padi di Desa Kajaolaliddong, Kecamatan Barebbo, Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan.

Melalui rangkaian pendampingan yang berlangsung sejak Juni 2026, program yang dijalankan dalam skema Program Penguatan Kapasitas Organisasi Kemahasiswaan (PPK Ormawa) UKM KPI Unhas tersebut berhasil mendorong produktivitas padi dari sekitar 3 ton menjadi 5,3 ton per hektare. 

Selain peningkatan hasil panen, program juga mencatat efisiensi penggunaan air hingga 25 persen dan pengurangan penggunaan pupuk kimia hingga 50 persen.

Hasil tersebut menjadi bagian dari capaian yang dipaparkan dalam lokakarya hasil Program Mannennungeng di Baruga La Tea Ri Duni, Kompleks Rumah Jabatan Bupati Bone, Senin (28/9/2026). 

Kegiatan tersebut digelar bersamaan dengan rangkaian Gau' Maraja 2026, Passompe Mattana Bone.

Lokakarya dihadiri Bupati Bone H. Andi Asman Sulaiman, jajaran organisasi perangkat daerah, mitra program, termasuk BPS dan Perum Bulog, tokoh adat, tokoh agama, tokoh masyarakat, serta ratusan Passompe Bone dari berbagai daerah.

Salah satu agenda utama dalam kegiatan tersebut adalah penyerahan Policy Brief dari Tim Mannennungeng kepada Pemerintah Kabupaten Bone. Dokumen ini berisi rekomendasi kebijakan yang dirumuskan berdasarkan hasil pelaksanaan program dan proses pendampingan masyarakat selama beberapa bulan.

Penyerahan Policy Brief tersebut menjadi upaya untuk menghubungkan hasil inovasi di tingkat masyarakat dengan kebutuhan pengembangan kebijakan daerah, khususnya dalam penguatan sektor pertanian dan pemberdayaan masyarakat.

Pada kesempatan yang sama, Tim Pelaksana PPK Ormawa UKM KPI Unhas juga melakukan penandatanganan Berita Acara Serah Terima (BAST) bersama kelompok sasaran, yakni Gapoktan Sipurio Sipurennu dan P4S Lamellong.

Melalui proses tersebut, sejumlah perangkat dan hasil program secara resmi diserahkan kepada kelompok masyarakat agar dapat dimanfaatkan dan dikelola secara berkelanjutan setelah rangkaian pendampingan mahasiswa selesai.

Program Mannennungeng mengembangkan pendekatan pertanian yang menggabungkan teknologi, pengelolaan sumber daya, penguatan kapasitas petani, dan pendampingan kelembagaan. Pendekatan tersebut diwujudkan melalui beberapa komponen utama, yakni Uwai Tuo, Pabbura, Warani, dan Garisi’.

Dosen Pendamping Mannennungeng, Muh. Adnan Kasogi mengatakan capaian program merupakan hasil kerja bersama berbagai pihak, bukan semata-mata hasil kerja mahasiswa.

“Program Mannennungeng bukanlah kerja satu pihak saja. Ini adalah hasil gotong royong antara mahasiswa, masyarakat, pemerintah daerah, instansi vertikal, dan seluruh pemangku kepentingan. Kami bersyukur karena proses pendampingan yang kami lakukan sejak awal telah membuahkan hasil nyata, tidak hanya dalam bentuk teknologi, tetapi juga dalam penguatan kelembagaan dan kapasitas petani,” ujarnya.

Ia menegaskan, berakhirnya rangkaian kegiatan tidak berarti pendampingan berhenti sepenuhnya. Keberlanjutan program justru akan ditentukan oleh kemampuan masyarakat dalam mengelola dan mengembangkan hasil yang telah dibangun bersama.

“Namun, lokakarya ini bukanlah akhir. Justru di sinilah ujian sesungguhnya dimulai yaitu memastikan bahwa apa yang telah kita bangun bersama terus hidup dan berkembang. Kami dari Universitas Hasanuddin akan terus hadir mendampingi, meskipun dengan peran yang semakin kecil, karena tujuan akhir kita adalah kemandirian masyarakat,” katanya.

Sementara itu, Bupati Bone H. Andi Asman Sulaiman menyoroti pentingnya keterlibatan masyarakat Bone di perantauan dalam mendukung pembangunan daerah. 

Menurutnya, kontribusi dapat diberikan melalui investasi, pertukaran pengetahuan, maupun berbagai bentuk pemberdayaan masyarakat.

“Para Passompe adalah duta-duta Bone di perantauan. Kami berharap mereka tidak hanya sukses di tanah rantau, tetapi juga mampu memberikan kontribusi nyata bagi pembangunan daerah. Kolaborasi antara pemerintah, masyarakat, dan perantau adalah kunci percepatan pembangunan di Kabupaten Bone,” ujarnya.

Semangat tersebut juga berkaitan dengan filosofi “Lao Sapa Deceng, Lesu Mappadeceng”, yang dimaknai sebagai pergi untuk mencari kebaikan dan kembali untuk memberikan kebaikan. 

Nilai tersebut menjadi salah satu landasan semangat mahasiswa dari berbagai disiplin ilmu untuk kembali ke daerah dan menerapkan pengetahuan yang dimiliki melalui kegiatan pemberdayaan masyarakat.

Tokoh adat Bone Andi Irwansyah mengapresiasi keterlibatan mahasiswa dalam pengembangan pertanian di daerah. 

Ia menilai keberlanjutan pertanian tidak hanya berkaitan dengan peningkatan produksi, tetapi juga dengan upaya mempertahankan warisan dan kehidupan generasi mendatang.

“Sebagai bagian dari masyarakat Bone yang mencintai tanah leluhurnya, kami sangat mengapresiasi apa yang telah dilakukan adik-adik mahasiswa Universitas Hasanuddin. Program Mannennungeng telah mengingatkan kami bahwa pertanian bukan hanya soal bercocok tanam, tetapi juga soal menjaga warisan dan menjaga generasi,” ujarnya.

Menurutnya, gagasan keberlanjutan yang dibawa Mannennungeng memiliki keterkaitan dengan nilai adat yang menempatkan hubungan manusia, alam, dan Sang Pencipta sebagai bagian penting dalam kehidupan masyarakat.

Dengan capaian peningkatan produktivitas padi, efisiensi air, pengurangan penggunaan pupuk kimia, serta penguatan kapasitas kelompok tani, Program Mannennungeng diharapkan tidak berhenti sebagai kegiatan pengabdian mahasiswa.

Tim Mannennungeng mendorong agar pengalaman dari Desa Kajaolaliddong dapat menjadi pembelajaran dalam pengembangan pertanian berbasis teknologi dan pemberdayaan masyarakat di wilayah lain. 

Penyerahan Policy Brief kepada pemerintah daerah dan BAST kepada kelompok sasaran menjadi langkah awal untuk memastikan inovasi yang telah diterapkan tetap berjalan dan berkembang di tingkat masyarakat.

Haeril