Thrift Shop Kian Menjamur di Makassar–Gowa, Peluang Ekonomi di Tengah Tantangan Regulasi
Desember 29, 2025
MAKASSAR, Foxnesia.com — Trend pakaian bekas impor atau thrift shop yang dikenal sebagai baju cakar terus mengalami peningkatan di wilayah Makassar dan Gowa.
Fenomena ini menjadikan thrift shop sebagai alternatif berbelanja masyarakat, khususnya anak muda, di tengah harga pakaian baru yang kian mahal.
Selain menawarkan harga terjangkau, thrift shop juga diminati karena model pakaian yang unik dan tidak pasaran. Tak heran jika dalam dua tahun terakhir, berbagai toko thrift bermunculan dan membentuk ekosistem ekonomi baru yang melibatkan pengelola usaha, konsumen, hingga akademisi.
Salah satu toko thrift yang ramai dikunjungi adalah Cemma.id, yang beroperasi di Kota Makassar.
Berdasarkan observasi lapangan, toko ini menata ribuan pakaian bekas impor secara rapi dan bersih, mencerminkan pengelolaan yang lebih modern dibandingkan lapak thrift konvensional.
Mey, staf pengelola Cemma.id, mengatakan meningkatnya minat masyarakat terhadap thrift shop tidak lepas dari kondisi ekonomi yang belum stabil.
“Sekarang ekonomi tidak stabil. Orang berpikir ulang membeli baju baru karena mahal, jadi thrift jadi pilihan karena lebih murah dan masih layak pakai,” ujarnya.
Dari sisi harga, Cemma.id menawarkan pakaian dengan kisaran Rp5.000 hingga Rp100.000, tergantung jenis dan kondisi barang.
Kaos sederhana dijual mulai dari harga terendah, sementara jaket, sweater, dan pakaian bermerek dipatok dengan harga lebih tinggi.
Dengan rata-rata 30–50 pembeli per hari dan estimasi belanja Rp30.000–Rp50.000 per orang, omzet Cemma.id diperkirakan berkisar Rp900.000 hingga Rp2,5 juta per hari.
Dalam satu bulan, omzetnya diperkirakan dapat mencapai Rp27 juta hingga Rp75 juta, tergantung ketersediaan stok dan tingkat kunjungan.
Di sisi lain, usaha thrift di Gowa juga berkembang melalui toko Cakar Andalan Makassar yang dikelola Jalil Hamza. Ia menilai bisnis baju cakar memiliki daya tarik ekonomi karena margin keuntungan yang relatif tinggi.
“Salah satu usaha yang marginnya tinggi,” kata Jalil.
Berbeda dengan Cemma.id, Jalil mengaku tidak menggunakan strategi pemasaran khusus dan lebih mengandalkan pembeli yang datang langsung ke toko.
“Strateginya tradisional, mengalir saja,” ujarnya.
Harga pakaian di Cakar Andalan Makassar relatif lebih seragam, yakni berkisar Rp25.000 hingga Rp50.000 per item. Barang yang dijual meliputi kaos, kemeja, celana, dan jaket bekas impor yang masih layak pakai.
Dengan perkiraan 20–40 pembeli per hari dan rata-rata pembelian satu hingga dua item, omzet harian toko ini diperkirakan berada di kisaran Rp500.000 hingga Rp2 juta.
Sementara omzet bulanan diperkirakan mencapai Rp15 juta hingga Rp60 juta, meski fluktuatif karena ketergantungan pada pasokan barang.
Meski membuka lapangan kerja, Jalil mengakui kesejahteraan pekerja masih menjadi tantangan.
“Gaji karyawan sekitar satu jutaan, masih kecil,” ungkapnya.
Selain itu, persoalan terbesar yang dihadapi pelaku usaha thrift adalah ketidakstabilan stok akibat proses impor pakaian bekas yang tidak sepenuhnya sesuai regulasi.
“Bukan ilegal menjualnya, tapi proses impornya yang bermasalah,” jelas Jalil.
Dari sisi konsumen, thrift shop tidak hanya dipilih karena harga murah. Mitha, salah satu pembeli, mengaku tertarik karena model pakaian yang unik dan cenderung vintage.
“Modelnya tidak pasaran,” katanya.
Hal serupa disampaikan Andi Ilmi, yang menyebut berbelanja di thrift shop memberi sensasi tersendiri.
“Seperti berburu harta karun,” ujarnya.
Sementara itu, Echa, pembeli di Cakar Andalan Makassar, menilai kualitas pakaian cukup baik, meski kebersihan perlu diperhatikan.
“Bajunya bagus, tapi harus dicuci dulu sebelum dipakai,” katanya.
Fenomena ini juga mendapat perhatian akademisi, Andi Rinda Oktariani dosen Manajemen Universitas Terbuka Makassar, menilai usaha thrift sebagai bagian dari ekonomi kreatif yang membuka peluang usaha bagi masyarakat bermodal terbatas.
Namun, ia mengingatkan bahwa dominasi pakaian bekas impor berpotensi menekan industri garmen lokal jika tidak diimbangi dengan regulasi yang jelas.
Perkembangan thrift shop di Makassar–Gowa menunjukkan dinamika ekonomi masyarakat urban yang kompleks. Di satu sisi membuka peluang ekonomi dan lapangan kerja, di sisi lain menghadirkan tantangan terkait regulasi, kesejahteraan tenaga kerja, dan industri lokal.
Fenomena ini menjadikan thrift shop bukan sekadar trend, melainkan isu sosial ekonomi yang layak mendapat perhatian lebih lanjut.
Penulis : Dias Natasyah War'afny (Mahasiswa Jurnalistik Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar)