Terpengaruh FOMO, Anak Muda Makassar Ramai-ramai Main Padel
Desember 28, 2025
MAKASSAR, Foxnesia.com — Olahraga padel kini menjadi salah satu aktivitas favorit anak muda di Kota Makassar.
Perpaduan tenis dan squash ini berkembang pesat dalam dua tahun terakhir, terutama berkat pengaruh media sosial serta budaya FOMO (Fear of Missing Out).
Padel tidak hanya dimainkan sebagai olahraga rekreasi, tetapi juga menjadi bagian dari gaya hidup modern anak muda di kota besar.
Dilansir dari Tempo.co, Padel pertama kali dimainkan pada 1969 di Acapulco, Meksiko oleh Enrique Corcuera.
Terinspirasi dari permainan squash dan tenis, Enrique kemudian menciptakan permainan unik yang ia uji coba sendiri di lapangan rumahnya, dan menamainya Paddle Corcuera. Ia kemudian mulai memperkenalkan permainan ini kepada teman-temannya.
Alfonso, salah satu teman Enrique, melihat potensi dari olahraga ini dan membawanya ke Spanyol. Di sana, padel berkembang pesat dan menjadi salah satu olahraga paling populer. Popularitasnya meluas ke berbagai negara di Eropa dan Amerika Latin.
Hingga pada 1991, Federation International de Padel (FIP) berdiri di Spanyol. Sejak saat itu, padel tidak hanya menjadi olahraga rekreasi, tetapi juga berkembang menjadi cabang olahraga profesional dengan kejuaraan internasional.
Dilansir dari ayo.co.id, Ayo Indonesia menunjukkan jumlah fasilitas padel di Makassar meningkat pesat, dengan 31 lapangan terdaftar dan 19 di antaranya sudah beroperasi.
Salah satu arena yang paling sering dikunjungi adalah GodHub Padel Makassar, yang menawarkan lapangan indoor berwarna pink dan desain modern yang menarik perhatian para pemain.
Tren ini dirasakan langsung oleh pemain padel aktif, Muhammad Faqih A. Razak (21) Mahasiswa Universitas Hasanuddin. Ia pertama kali mencoba padel setelah melihat unggahan temannya di Instagram.
“Saya penasaran karena banyak artis main. Teman saya juga sering buat story, jadi saya ikut mencoba, ternyata seru sekali," ujarnya saat diwawancarai langsung di Gor Borong pada Sabtu 29 November 2025.
Menurutnya, padel terasa berbeda dari olahraga raket lain.
“Kalau badminton bolanya melambung. Di padel, bolanya harus memantul dulu dan raketnya tidak pakai senar, rasanya berbeda," jelasnya.
Faqih menyebut fasilitas padel di Makassar sudah cukup nyaman.
“Karena indoor, kita tidak takut panas atau hujan, jadinya nyaman sekali," tambahnya.
Pemain aktif lainnya, Andi Annisa Mutia (21) Mahasiswi Universitas Muslim Indonesia, juga mengenal padel dari media sosial.
“Awalnya sering lihat videonya. Terlihat seru dan tidak serumit tenis, setelah mencoba, ternyata mudah dipelajari, apalagi bagi saya yang punya basic tenis," ujarnya saat diwawancari melalui Via Instagram pada Minggu 30 November 2025.
Annisa menilai komunitas padel di Makassar sudah mulai terbentuk, meski masih butuh lebih banyak kegiatan untuk berkembang.
“Komunitasnya sudah ada, tetapi butuh lebih banyak turnamen, kelas pemula, atau gathering supaya makin luas dan menarik minat masyarakat," tambahnya.
Dosen Fakultas Ilmu Keolahragaan dan Kesehatan Universitas Negeri Makassar (UNM), Dr. Andi Ridwan, mengatakan bahwa padel berkembang pesat karena mudah dimainkan dan cocok untuk berbagai kalangan.
“Belakangan padel sangat diminati. Banyak pemain tenis, squash, hingga tenis meja yang ikut mencoba. Memang turnamen besar belum banyak, tetapi peminatnya terus bertambah," jelasnya saat diwawancarai langsung di Warkop Tangko pada Sabtu 15 November 2025.
Andi menegaskan bahwa media sosial memainkan peranan penting dalam mendorong tren ini.
Menurutnya, unggahan selebritas dan influencer membuat masyarakat semakin penasaran untuk mencoba padel.
“Media sosial sangat berpengaruh. Banyak yang baru mengenal padel setelah melihatnya di Instagram atau TikTok," tambahnya.
Ia juga melihat bahwa tren ini dipengaruhi gaya hidup pascapandemi, ketika banyak orang mulai kembali aktif bergerak dan mencari olahraga ringan yang bisa dilakukan bersama teman.
Tidak hanya sekadar olahraga, padel jadi bagian dari gaya hidup anak muda. Fasilitas padel di Makassar kini hadir dengan konsep modern, lengkap dengan pencahayaan yang menarik, area
nongkrong, hingga spot foto yang “instagrammable”.
Hal ini menjadikan padel bukan hanya
aktivitas fisik, tetapi juga wadah bersosialisasi dan membuat konten kreatif.
Menurut Dr. Andi Ridwan, kampus dan lembaga pendidikan juga dapat mengambil peran dengan mengenalkan padel melalui kegiatan mahasiswa.
“UNM bisa membuat Biro Kegiatan Mahasiswa Fakultas (BKM-F) untuk mengembangkan padel di lingkungan kampus," ucapnya.
"Kendalanya mungkin pada harga raket yang masih cukup mahal, tetapi olahraga ini punya potensi besar," tambahnya.
Dengan besarnya pengaruh media sosial, bertambahnya jumlah fasilitas, dan tingginya antusiasme anak muda, padel diprediksi akan terus berkembang di Makassar.
Olahraga ini bukan lagi tren sesaat, melainkan bagian dari gaya hidup urban yang menggabungkan aktivitas fisik, hiburan, dan interaksi sosial.
Penulis : Dayenk Sara Syarkawi