Baby Blues Bukan Kelemahan, Ia Fakta Biologis yang Perlu Didengar
Oktober 31, 2026
OPINI, Foxnesia.com - Bayangkan seorang ibu baru yang menangis tanpa sebab jelas di hari ketiga setelah melahirkan. Tidak sedikit orang akan berkomentar, "Harusnya bersyukur, kan sudah punya bayi." Komentar seperti ini terdengar ringan, tetapi bisa melukai.
Baby blues sebenarnya sangat umum. Sekitar 50-80% ibu bersalin mengalami baby blues dalam sepuluh hari pascamelahirkan. Di Indonesia, BKKBN melaporkan 57 persen ibu mengalami gejala baby blues, angka yang disebut tertinggi di Asia. Artinya, kondisi ini hampir menjadi pengalaman mayoritas ibu, bukan kasus langka.
Penyebabnya pun nyata. Setelah persalinan, kadar hormon turun drastis, tubuh kelelahan, tidur terpotong, dan peran baru datang tanpa jeda. Gejalanya seperti sedih, cemas, dan mudah tersinggung biasanya muncul antara hari ketiga dan kelima serta membaik sekitar dua minggu setelah persalinan.
Persoalannya, tidak semua berhenti di situ. Baby blues dapat berkembang menjadi depresi pascapersalinan bila ibu tidak mendapat bantuan. Dampaknya juga meluas, sebab depresi dan kecemasan pascapersalinan dikaitkan dengan rendahnya keberhasilan menyusui eksklusif.
Ada hal yang menurut saya patut dicermati. Menurut Survei Kesehatan Indonesia 2023, hanya 1,1 persen ibu yang tercatat mengalami baby blues. Jarak yang sangat lebar dengan angka 57 persen tadi mengisyaratkan banyak kasus yang tidak terdeteksi, entah karena ibu enggan bercerita atau karena lingkungan menganggapnya sepele. Ini kesimpulan saya, bukan temuan yang dinyatakan langsung oleh sumber.
Maka solusinya bukan menyuruh ibu "lebih kuat". Pasangan perlu membagi tugas pengasuhan, keluarga perlu mendengarkan tanpa menghakimi, dan tenaga kesehatan perlu menyertakan skrining kondisi psikologis dalam kunjungan nifas. Bila gejala bertahan lebih dari dua minggu atau muncul pikiran menyakiti diri, ibu perlu segera ditemani ke profesional.
Merawat bayi dimulai dari merawat ibunya. Dan merawat ibu dimulai dari kesediaan kita mendengar.
Faktor risikonya juga tidak selalu sama pada setiap ibu. Sebuah kajian menemukan bahwa jenis persalinan berpengaruh signifikan terhadap kejadian baby blues (p=0,025), dengan ibu yang menjalani operasi caesar lebih besar kemungkinannya mengalaminya. Temuan ini mengingatkan kita bahwa kondisi emosional ibu berkaitan erat dengan pengalaman fisik saat melahirkan, seperti rasa nyeri pascaoperasi dan pemulihan yang lebih lama. Karena itu, ibu dengan faktor risiko tertentu sebaiknya mendapat perhatian lebih sejak awal, bukan baru ditolong setelah gejalanya memberat.
Di sisi lain, ada hambatan yang sifatnya kultural. Di Indonesia, minimnya perhatian terhadap baby blues disebut diperparah oleh anggapan keliru di masyarakat. Padahal peran orang terdekat sangat menentukan, karena dukungan pasangan selama kehamilan terbukti menjadi penentu penting kesehatan ibu pascapersalinan. Dukungan itu tidak harus rumit.
Mengambil alih giliran jaga malam, menyiapkan makanan, atau sekadar bertanya "bagaimana perasaanmu hari ini?" sudah merupakan bentuk pencegahan yang nyata. Jika kita mau menormalkan percakapan semacam ini, angka yang selama ini tersembunyi akan terlihat, dan ibu tidak lagi merasa harus menanggungnya sendirian.
Penulis : Artika Devi
Kader HMI Cabang Majene
*Tulisan tanggung jawab penuh penulis*