FOXLINE NEWS
Mode Gelap
Artikel teks besar

Panen Perdana Mannennungeng di Bone Capai 5,3 Ton per Hektare, Lampaui Target Produktivitas


BONE, Foxnesia.com – Program Mannennungeng : Smart Hydro Loop yang dikembangkan Tim Program Penguatan Kapasitas Organisasi Kemahasiswaan (PPK Ormawa) Unit Kegiatan Mahasiswa Keilmuan dan Penalaran Ilmiah (UKM KPI) Universitas Hasanuddin mencatat capaian positif dalam panen perdana di Desa Kajaolaliddong, Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan, Kamis (03/09/26).

Panen yang berlangsung di lahan demplot program tersebut menghasilkan produktivitas 5,3 ton gabah kering panen (GKP) per hektare. Angka tersebut melampaui target awal yang ditetapkan sebesar 5 ton per hektare sekaligus meningkat dibandingkan produktivitas sebelumnya yang berada di angka 3 ton per hektare.

Capaian tersebut menjadi salah satu indikator keberhasilan penerapan konsep pertanian cerdas yang dikembangkan melalui Mannennungeng. Program ini mengintegrasikan empat pendekatan utama, yakni Uwai Tuo, Pabbura, Warani, dan Garisi’, yang masing-masing memiliki fungsi dalam mendukung pengelolaan pertanian secara terpadu.

Uwai Tuo merupakan sistem pengelolaan irigasi presisi berbasis Internet of Things (IoT). Teknologi tersebut digunakan untuk membantu mengatur kebutuhan air tanaman secara lebih terukur dan efisien. Dalam penerapannya, sistem ini disebut mampu menghemat penggunaan air hingga 25 persen.

Selanjutnya, Pabbura dikembangkan melalui pemanfaatan limbah pertanian dan peternakan untuk menghasilkan pupuk organik. Pemanfaatan limbah tersebut menjadi bagian dari upaya meningkatkan kesuburan tanah sekaligus mendorong pengelolaan sumber daya yang lebih berkelanjutan.

Pada aspek perlindungan tanaman, Warani diterapkan sebagai pendekatan pengendalian organisme pengganggu tanaman yang lebih ramah lingkungan. Sistem tersebut diarahkan untuk mengurangi serangan hama sekaligus menekan penggunaan pestisida kimia secara berlebihan.

Sementara itu, Garisi’ berfokus pada strategi pengaturan pola tanam dan rotasi varietas unggul. Penerapan strategi ini bertujuan menciptakan kondisi budidaya yang lebih optimal dan menjaga produktivitas lahan secara berkelanjutan.

Untuk memastikan capaian produksi, pengukuran produktivitas dilakukan melalui metode ubinan oleh Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Bone di lokasi demplot. Hasil pengukuran tersebut menunjukkan produktivitas mencapai 5,3 ton GKP per hektare.

Ketua Tim PPK Ormawa UKM KPI Unhas 2026, Fadel Muhammad S menyampaikan bahwa hasil panen tersebut menjadi pembuktian awal terhadap penerapan sistem pertanian terpadu yang dikembangkan melalui Mannennungeng.

“Alhamdulillah, panen perdana ini membuktikan bahwa pendekatan holistik melalui Uwai Tuo, Pabbura, Warani, dan Garisi’ benar-benar efektif. Kami tidak hanya menghemat air dan memperbaiki tanah, tetapi juga menekan risiko hama dan mengoptimalkan pola tanam. Ini adalah bukti bahwa pertanian cerdas dan berkelanjutan bisa diwujudkan di tingkat desa. Kami berterima kasih kepada BPS Bone yang telah memverifikasi capaian ini,” ujarnya.

Sementara itu, Ketua Umum UKM KPI Unhas, Aydil Fitra Mulya, menilai capaian tersebut menjadi bukti bahwa inovasi yang dikembangkan mahasiswa dapat memberikan kontribusi terhadap persoalan sektor pertanian.

“Ini adalah momen bersejarah bagi UKM KPI Unhas. Kami telah membuktikan bahwa inovasi mahasiswa di bidang irigasi, pengolahan limbah, pengendalian hama, dan pola tanam mampu memberikan solusi nyata bagi permasalahan pertanian di Indonesia. Capaian 5,3 ton per hektare ini bukan sekadar angka, tetapi bukti bahwa petani bisa sejahtera dengan pendekatan yang terintegrasi dan berkelanjutan,” tegasnya.

Dari sisi petani, capaian tersebut turut mendapat sambutan positif. Burhanuddin Ketua Kelompok Tani Mabbiri’ sekaligus Ketua P4S Lamellong, mengatakan bahwa produktivitas yang diperoleh melalui program Mannennungeng menjadi peningkatan berarti dibandingkan hasil panen sebelumnya.

“Kami tidak pernah membayangkan hasil panen bisa sebesar ini. Selama bertahun-tahun kami hanya mendapat 3 ton per hektare. Sekarang, dengan bantuan adik-adik mahasiswa dan teknologi Mannennungeng, kami bisa mendapat 5,3 ton. Ini benar-benar mengubah hidup kami,” katanya.

Keberhasilan panen perdana di Bone menjadi salah satu capaian penting dalam pengembangan pertanian cerdas berbasis teknologi di Sulawesi Selatan. 

Program Mannennungeng menunjukkan bahwa kolaborasi antara perguruan tinggi, mahasiswa, pemerintah, dan masyarakat dapat diarahkan untuk menghasilkan inovasi yang aplikatif di tingkat desa.

Kedepan, pengalaman penerapan Mannennungeng di Desa Kajaolaliddong diharapkan dapat menjadi model yang dapat dikembangkan di wilayah lain, baik di Kabupaten Bone maupun daerah lain di Sulawesi Selatan dan Indonesia. 

Perluasan penerapan inovasi tersebut diharapkan dapat berkontribusi terhadap peningkatan produktivitas pertanian, efisiensi penggunaan sumber daya, serta penguatan ketahanan pangan secara berkelanjutan.

Haeril