FOXLINE NEWS
Mode Gelap
Artikel teks besar

81 Tahun Mempertanyakan Seperti Apa Ukuran Nasionalisme Itu?


OPINI, Foxnesia.com - 81 Tahun Indonesia merdeka katanya, berbagai persoalan masih terus terjadi krisis katanya. Pemerintah mengemukakan dalam pidato Om Presiden Prabowo Subianto tentang efesiensi. Kabinet gemuk, banyak badan baru yang dibentuk di masa Pemerintahannya.

Aku baru ingat, dia kan membuat framing gemoy. Maklum saja Kabinetnya gemuk, Mentri, Wakil Mentri, Staf khusus. Terdiri dari 56 Menteri, Wakil Menteri 56, belum ditambahkan Staf khusus, diangkat 250. Untuk apa adanya efesiensi, efesiensi Hanya bagi kalangan dibawa. Kalangan elit, hanya akan menyambangi rasa syukurnya.

Dana MBG Mulai dari Rp1,2 triliun per hari. Dana untuk pelatihan Kopdes mencapai 1 Triliun, pejabat punya mobil Dinas yang harganya mahal-mahal. Anehnya efesiensi, tetapi itu untuk yang diperuntukkan bagi Rakyat. Kalangan mereka boro-boro, Hati-hati nanti dituduh Antek-antek asing. 

Sudah ada 8 generasi Presiden, ada yang memimpi 2 Periode lamanya, dan semua meninggalkan jejaknya. Ada pula memimpin puluhan Tahun, ya itu di Masa Orde Lama, Orde Baru. Ada juga yang hanya satu Tahun. Warisan yang di tinggalkan, yakin Reformasi yang katanya penuh kenikmatan Kebebasan didalamnya.

17 Agustus 2026, genap 81 Tahun memperingati hari Kemerdekaan. Hanya refleksi saja, Pemerintah mengeluarkan surat edaran untuk mengibarkan Bendera mulai Tanggal 1-31 Agustus katanya ini kewajiban sebagai Warga Negara Indonesia. Nasionalisme diukur dari Kewajiban yang muncul hanya kepatuhan saja.

Harga-harga melambung tinggi, daya beli Masyarakat sangat menurun, Rupiah melemah. Pidato presiden juga kadang ngawur. 19 Juta Lapangan Pekerjaan dari Mas Wapres juga baru ucapan.sudah satu Juta sarjana yang jadi pengangguran. Dengan ongkos Kuliah yang mahal. Terus dapat apa mereka, hanya secarik kertas yang masih di perdebatkan keasliannya.

Kegiatan industrialisasi terus tumbuh, siapa yang di perkaya ya jawabannya mereka dari kalangan investor, kalangan mendanai Pemilu, kalangan korporasi.

Suara nyanyian Lagu Indonesia Raya berkumandang, mereka tidak malu. Disaat Pejabat sedang merayakan, Bencana alam di NTT yang menghancurkan bangunan, dan masyarakat luka-luka dan tewas akibat reruntuhan.

Katanya ada peringatan di Google, dengan keadaan kepanikan.siapa yang masih sempat membuka Google. Mitigasi bencana di Negara ini masih jauh, setelah kejadian barulah muncul di pemberitaan. Berbeda dengan Jepang yang sejak satu jam sebelum kejadian, ada notifikasi masuk ke Ponsel masyarakat yang ada di wilayah tersebut. Ada waktu untuk kemudian ke tempat yang aman. Di Indonesia masih sering mengungkapkan ini ketetapan Tuhan. Lagi-lagi negara religius, masih menyalahkan Tuhan.

Selamat ulang Tahun Indonesia ke 81 Tahun, Aku mencintai Negara ini. Tetapi tidak dengan Pemerintahannya kalimat yang kudengar dari Mas Farid Gabang salah satu Penulis dari Reset Indonesia.

Ada beberapa kebijakan Presiden mulai dari Makanan Bergizi Gratis (MBG) dengan kucuran Anggaran yang tinggi, dua kali mengganti Kepala Badan Gizi Nasional, yang pertama karena Korupsi yang kedua mungkin ada alasan lainnya. Kemudian ada Koperasi Merah Putih Desa (Kopdes) kehadiran ini dianggap akan memperkuat perekonomian Desa, lantas bagaimana dengan posisi dari BUMDES sebuah badan usaha milik desa. Kucuran anggaran dari Dana Desa sebagai jaminan, Alhasil Dana desa yang bisa di gunakan awal setiap satu Tahun kisaran 1-2 Miliyar, menjadi 300 Juta. Sebuah perubahan yang cukup mencolok. Desa selalu saja jadi korban proyek dari pusat, sampaikapan Desa di pandang sebagai ladang kepentingan pusat. Bangunan juga berada di tempat yang strategis dipertanyakan, di tengah Hutan, daerah terpencil. Selain itu pula bagaimana nasib usaha-usaha Kecil, kios-kios Rumahan. Masyarakat didesa punya daya beli yang berbeda dengan Masyarakat perkotaan.

Mungkin itu saja opiniku tentang Negara Indonesia, sekali lagi semoga diberikan kesehatan target 2045 generasi emas. Para kaum muda seyogyanya tidak apatis dengan keadaan Negara. Cukup Live TikTok saja, ekploitasi buku sebanyak-banyaknya.

Penulis: Ashar Abdillah 
(Akademisi)

*Tulisan Tanggung Jawab Penuh Penulis