Wajah Pendidikan di Negara Kita saat Ini : Masihkah pada Tupoksinya?
Mei 03, 2026
OPINI, Foxnesia.com - Pendidikan merupakan fondasi utama dalam membangun peradaban bangsa. Ia tidak sekadar menjadi sarana transfer pengetahuan, tetapi juga ruang pembentukan kesadaran dan karakter.
Karena itu, kesadaran akan pentingnya pendidikan harus diiringi dengan tindakan nyata yang benar-benar mengarah pada tujuan utamanya: mencerdaskan dan mencerahkan kehidupan bangsa.
Secara etimologis, pendidikan berasal dari dua istilah: educare dan educere. Educare dimaknai sebagai proses menanamkan atau mentransfer pengetahuan dan keterampilan dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Sementara educere memiliki makna yang lebih mendalam yakni proses “menarik keluar” potensi, melahirkan kesadaran baru, serta mendorong lahirnya pencerahan.
Dalam praktiknya, pendidikan kita hari ini cenderung berhenti pada tahap educare dan mulai menjauh dari semangat educere. Pendidikan kian tergerus oleh benih-benih individualisme dan pragmatisme.
Ia lebih sering dimaknai sebagai rutinitas administratif: mengejar nilai, kelulusan, dan formalitas, ketimbang menjadi ruang pembebasan berpikir.
Akibatnya, lahirlah generasi yang mungkin unggul secara akademik, tetapi belum tentu kritis dalam membaca realitas sosial.
Di tengah derasnya arus teknologi informasi dan digitalisasi, penekanan pada aspek educere menjadi semakin mendesak.
Tanpa itu, pendidikan berisiko hanya melahirkan individu yang menjadi pelengkap algoritma media sosial, bukan subjek yang mampu berpikir mandiri dan menjadi benteng literasi.
Sebagaimana ditegaskan oleh Ki Hajar Dewantara, pendidikan adalah proses menuntun segala potensi yang ada pada diri manusia agar mencapai keselamatan dan kebahagiaan setinggi-tingginya.
Dengan demikian, pendidikan sejatinya bukanlah proses penyeragaman, melainkan ruang pembebasan yang memberi tempat bagi tumbuhnya nalar kritis.
Pencerahan tidak mungkin lahir dari keseragaman yang dipaksakan. Ia tumbuh dari keberanian untuk berpikir berbeda, mengemukakan pendapat, serta mengkritisi hal-hal yang sudah tidak lagi relevan.
Pada akhirnya, pencerahan yang baharu hanya dapat dicapai melalui jembatannya yaitu keberanian untuk berbeda, bersuara, dan berpikir merdeka nilai-nilai yang seharusnya menjadi nadi dari setiap proses pendidikan.
Penulis : Azhari Setiawan
(Sekbid RPK PC IMM Kabupaten Maros)
Tulisan Tanggung Jawab Penuh Penulis