Meneguhkan Paradigma Ecoteologis : Ikhtiar Kader IMM Menata Pembangunan Bangsa yang Berkeadaban
Februari 13, 2026
OPINI, Foxnesia.com - Fenomena krisis ekologi yang melanda Indonesia saat ini telah menjadi kenyataan pahit yang memerlukan perhatian serius, khususnya bagi kader Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM).
Sebagai bangsa yang sedang memacu ambisi menuju Indonesia Emas 2045, kita justru dihadapkan pada kontradiksi antara percepatan pembangunan dan degradasi lingkungan yang kian merajalela.
Realitas erosi di pesisir Makassar hingga deforestasi masif di Sumatra bukan sekadar bencana alam, melainkan sebuah pengingat atas pengkhianatan amanah manusia sebagai khalifah fil ard.
Kader IMM, sebagai aktor intelektual-religius yang berbasis pada nilai Islam dan nasionalisme, kini dipanggil untuk meneguhkan paradigma ecoteologis sebuah integrasi ajaran Islam tentang lingkungan dengan etika pembangunan berkelanjutan.
Hal ini mendesak dilakukan agar kemajuan bangsa ke depan tidak lagi mengorbankan harmoni alam semesta.
Salah satu tantangan mendasar dalam pembangunan nasional adalah dominasi paradigma antroposentris yang menempatkan manusia sebagai penguasa mutlak tanpa tanggung jawab ekologis.
Data Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) 2025 yang mencatat angka deforestasi mencapai 1 juta hektar per tahun menjadi bukti nyata kerusakan akibat “tangan manusia,” sebagaimana peringatan dalam QS. Ar-Rum: 41.
Bagi kader IMM, krisis ini adalah cermin kegagalan peran kekhalifahan. Sebagaimana ditegaskan dalam Hadits Riwayat Muslim bahwa dunia ini "manis dan hijau," kader IMM harus mampu mengembalikan kesadaran kolektif bahwa alam adalah ayat kauniyah yang wajib dilindungi sebagai bagian dari manifestasi iman.
Muhammadiyah, melalui visi Islam Berkemajuan, telah meletakkan fondasi kuat melalui Majelis Lingkungan Hidup (MLH).
Inisiatif seperti Green Masjid dan Eco Bhinneka yang telah melibatkan ratusan masjid pilot hingga tahun 2025 membuktikan bahwa dakwah lingkungan bersifat konkret dan inklusif.
Paradigma ecoteologis kader IMM harus berdiri di atas tiga pilar utama: teologis (alam sebagai tanda kebesaran Tuhan), etis (keadilan antar generasi), dan praktis (aksi nyata di lapangan).
Gerakan ini tidak boleh berhenti pada narasi normatif, melainkan harus terwujud dalam aksi nyata seperti konservasi mangrove di tingkat komisariat hingga advokasi kebijakan yang berpihak pada kelestarian lingkungan.
Strategi adaptasi gerakan IMM dalam merespons tantangan ini harus dijejaring dengan momentum perkaderan formal.
Dalam konteks DAM IMM 2026 bertema “Integrasi Ecoteologis; Menata Indonesia”, kader IMM memiliki peluang strategis untuk memformulasikan peran sebagai agen perubahan yang berlandaskan nilai keislaman.
Melalui proses kaderisasi yang terstruktur, IMM harus mampu menanamkan kesadaran bahwa pembangunan nasional tidak cukup hanya mengejar materi, melainkan harus mempertimbangkan nilai moral dan keberlanjutan.
Implementasi ini menuntut adanya roadmap sistematis untuk mengatasi hambatan struktural, kultural, maupun kognitif di internal organisasi.
Dengan menjadikan komisariat sebagai laboratorium sosial dan memperkuat jejaring kolaboratif bersama lembaga lingkungan serta pemerintah, kader IMM dapat memastikan bahwa gagasan ecoteologi memiliki dampak sosial yang luas.
Di tahun 2026 yang diprediksi akan menghadapi tantangan La Nina, IMM harus tampil sebagai vanguard (pelopor) gerakan nyata untuk melindungi bumi.
Sebagai penutup, penguatan paradigma ecoteologis bagi kader IMM bukan sekadar pilihan, melainkan sebuah keniscayaan etis untuk menjawab problematika pembangunan nasional.
Meneguhkan paradigma ini berarti menjawab panggilan sebagai khalifah yang menjaga bumi sebagai bentuk ibadah.
Dengan keimanan yang kokoh dan semangat intelektualitas yang tinggi, kader IMM siap memimpin transisi menuju peradaban hijau yang berkeadaban dan selaras dengan nilai Islam Berkemajuan.
Penulis : Absar Mahua
(Kader PK IMM FT Unismuh Makassar)
Tulisan Tanggung Jawab Penuh Penulis