FOXLINE NEWS
Mode Gelap
Artikel teks besar

PENGOLAHAN LIMBAH SABUT KELAPA MENJADI PRODUK KESET KAKI DI WAERANA SEBAGAI IMPLEMENTASI PKM BERBASIS KETERAMPILAN PRAKTIS



PENGOLAHAN LIMBAH SABUT KELAPA MENJADI PRODUK KESET KAKI DI WAERANA SEBAGAI IMPLEMENTASI PKM BERBASIS KETERAMPILAN PRAKTIS


Pendidikan Guru Sekolah Dasar, Universitas Katolik Santu Paulus Ruteng,Indonesia
 yanuariusarbi71@gmail.com,frudensiaafrilda@gmail.com,sesiliaasni22@gmail.com,yosefinairma4@gmail.com,dikaenjelinasofia@gmail.com,n renasaka30@gmail.com, moanarnoldi10@gmail.com.         

Abstrak

Indonesia merupakan salah satu negara penghasil kelapa terbesar di dunia, termasuk wilayah Waerana. Namun, sabut kelapa sebagai hasil samping masih belum dimanfaatkan secara optimal dan cenderung menjadi limbah. Kegiatan Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) ini bertujuan untuk memberdayakan masyarakat Waerana melalui pengolahan limbah sabut kelapa menjadi produk keset kaki berbasis keterampilan praktis. Metode pelaksanaan meliputi observasi awal, pelatihan keterampilan, pendampingan produksi, dan evaluasi. Hasil kegiatan menunjukkan peningkatan pengetahuan dan keterampilan masyarakat dalam mengolah sabut kelapa, perubahan pola pikir terhadap pemanfaatan limbah, serta terbentuknya kelompok kerja kecil yang berpotensi mengembangkan usaha berbasis potensi lokal. Program ini memberikan manfaat ekonomi sekaligus mendukung upaya pelestarian lingkungan. Dengan demikian, pengolahan sabut kelapa menjadi keset kaki dapat menjadi solusi alternatif dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan pengelolaan limbah secara berkelanjutan di Waerana.

Kata kunci : sabut kelapa, keset kaki, PKM, keterampilan praktis, pemberdayaan masyarakat.

Abstrac

Indonesia is one of the world’s largest coconut-producing countries, including the Waerana region. However, coconut husk as a by-product has not been optimally utilized and tends to become waste. This Student Creativity Program (PKM) activity aims to empower the Waerana community through processing coconut husk waste into doormat products based on practical skills. The implementation methods include initial observation, skills training, production mentoring, and evaluation. The results of the activity indicate an increase in the community’s knowledge and skills in processing coconut husks, a shift in mindset regarding waste utilization, and the formation of small working groups with the potential to develop businesses based on local resources. This program provides economic benefits while supporting environmental conservation efforts. Thus, processing coconut husks into doormats can serve as an alternative solution to improving community welfare and sustainable waste management in Waerana.

Keywords: coconut husk, doormat, PKM, practical skills, community empowerm.

I. LATAR BELAKANG

      Indonesia dikenal sebagai salah satu negara penghasil kelapa terbesar di dunia. Banyak daerah yang menjadikan kelapa sebagai komoditas utama, termasuk di Waerana. Di Waerana ini, hampir setiap keluarga memiliki pohon kelapa yang digunakan untuk kebutuhan sehari-hari seperti konsumsi, pembuatan kopra, hingga kebutuhan rumah tangga. Namun, dari semua bagian kelapa yang dimanfaatkan, sabut kelapa masih menjadi limbah yang paling banyak dan belum dikelola dengan baik.

     Saat ini, sabut kelapa di Waerana biasanya hanya dibakar atau ditumpuk begitu saja di sekitar rumah warga. Kebiasaan ini dapat mencemari lingkungan dan menunjukkan bahwa sabut kelapa sebenarnya memiliki nilai ekonomi yang belum dimanfaatkan. Padahal, sabut kelapa dapat digunakan sebagai bahan kerajinan, seperti keset kaki, sapu, tali, dan media tanam. Jika diolah dengan benar, limbah ini bisa menjadi produk yang bernilai jual dan bermanfaat bagi masyarakat.

     Keset adalah alat atau perkakas yang digunakan untuk membersihkan debu, kotoran, dan partikel-partikel kecil dari permukaan lantai atau permukaan lainnya. Keset biasanya terbuat dari serat alami atau bahan sintetis yang dirangkai menjadi serabut panjang dan dipasangkan pada gagang atau pegangan yang memungkinkan pengguna untuk menyapu permukaan dengan mudah (Fahruddin et al., 2019) (Ariatma et al., 2020). Keset digunakan secara luas dalam kegiatan pembersihan rumah, kantor, gedung, dan berbagai jenis ruangan lainnya untuk menjaga kebersihan dan kebersihan.

   Produk keset dari serabut kelapa membantu mengurangi limbah kelapa yang dihasilkan dari industri pengolahan kelapa. Ini mendukung praktik pengolahan yang lebih berkelanjutan dan ramah lingkungan (Ariatma et al., 2020). Serat kelapa adalah bahan alami yang dapat diperbarui. Penggunaan serabut kelapa untuk membuat keset mendukung keberlanjutan lingkungan karena mengurangi ketergantungan pada bahan sintetis atau plastik.

    Melihat potensi tersebut, diperlukan program pemberdayaan masyarakat yang dapat membantu warga memanfaatkan sabut kelapa menjadi produk kerajinan. Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) berbasis keterampilan praktis menjadi salah satu cara untuk mengajarkan masyarakat mengolah sabut kelapa menjadi keset kaki yang menarik dan memiliki nilai jual.

     Pelaksanaan PKM ini bukan hanya membantu meningkatkan perekonomian masyarakat, tetapi juga mengajarkan pentingnya mengelola limbah secara ramah lingkungan. Selain itu, program ini membuka peluang usaha baru, meningkatkan kreativitas warga, serta memperkuat identitas Waerana sebagai daerah penghasil kelapa yang mampu mengolah limbahnya secara inovatif. Oleh karena itu, pengolahan sabut kelapa menjadi keset kaki merupakan langkah penting untuk mendukung pembangunan berkelanjutan dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat Waerana.

II. METODE 

     Kegiatan pengolahan limbah sabut kelapa menjadi produk keset kaki di Waerana dilaksanakan menggunakan metode pemberdayaan masyarakat yang meliputi empat tahapan utama, yaitu: observasi awal, pelatihan, pendampingan produksi, dan evaluasi hasil.

1. Observasi Awal

Tahap pertama dilakukan dengan mengamati kondisi lapangan untuk mengetahui jumlah limbah sabut kelapa, kebiasaan masyarakat dalam memanfaatkannya, serta potensi warga yang bersedia mengikuti pelatihan. Data diperoleh melalui wawancara singkat dengan warga, perangkat desa, serta pengamatan langsung di lokasi pengumpulan sabut kelapa.

2. Pelatihan Keterampilan

Setelah memperoleh gambaran kondisi, dilakukan pelatihan keterampilan dasar kepada masyarakat. Pelatihan meliputi:
Pengenalan manfaat dan potensi ekonomi sabut kelapa, Teknik membersihkan dan memisahkan serat sabut kelapa, Cara merangkai dan membentuk keset kaki, Pengenalan alat sederhana yang digunakan dalam proses pembuatan. Pelatihan ini dilakukan secara praktis dengan contoh langsung sehingga peserta dapat memahami setiap langkah dengan mudah.

3. Pendampingan Produksi

Setelah pelatihan, kegiatan dilanjutkan dengan pendampingan produksi. Pada tahap ini peserta membuat keset secara mandiri dengan bimbingan tim PKM. Pendampingan bertujuan memastikan proses pembuatan sesuai standar, mulai dari pemilihan bahan, kualitas anyaman, hingga finishing produk.

4. Evaluasi dan Pengembangan

Tahap terakhir dilakukan untuk menilai keberhasilan program. Evaluasi dilakukan dengan meninjau kualitas produk, kemampuan peserta dalam memproduksi keset secara mandiri, serta minat masyarakat untuk melanjutkan usaha. Selain itu, dilakukan diskusi bersama untuk merancang strategi pengembangan, seperti pemasaran sederhana, pembuatan desain baru, atau pengelompokan warga dalam unit usaha kecil.

III. HASIL dan PEMBAHASAN

      Keset dari serabut kelapa adalah produk yang terbuat dari serat atau serabut alami yang diambil dari kelapa (Kardiman et al., 2020) (Ramadhani, 2023). Sampah limbah serabut kelapa adalah jenis sampah organik yang berasal dari serabut atau serat-serat kelapa yang sudah tidak terpakai lagi. Program pengolahan limbah sabut kelapa di Waerana membuktikan bahwa bahan yang selama ini dianggap tidak bernilai ternyata dapat menjadi produk fungsional dan ekonomis. Kegiatan ini sejalan dengan prinsip pemberdayaan masyarakat, di mana warga tidak hanya menerima bantuan, tetapi juga diajak aktif mempelajari keterampilan baru.

    Melalui pelatihan dan pendampingan, masyarakat memperoleh pengalaman langsung dalam mengolah sabut kelapa. Hal ini penting karena pendekatan praktik terbukti lebih efektif dibanding teori semata. Peningkatan keterampilan ini menjadi indikator keberhasilan program PKM berbasis keterampilan praktis.

    Selain itu, kegiatan ini membantu mengubah pola pikir masyarakat mengenai pemanfaatan limbah. Sabut kelapa yang dulunya dibakar atau dibiarkan menumpuk kini memiliki nilai tambah sebagai bahan produk kerajinan. Kesadaran baru ini menjadi modal penting untuk mengembangkan kegiatan ekonomi berbasis potensi lokal.

    Terbentuknya kelompok kerja kecil menunjukkan adanya komitmen masyarakat untuk melanjutkan produksi. Jika kelompok ini didukung dengan pelatihan lanjutan seperti pemasaran, pengemasan, dan inovasi desain, maka usaha kecil ini berpotensi berkembang menjadi sumber penghasilan tambahan bagi warga.

Secara keseluruhan, program PKM ini mampu :

° Meningkatkan keterampilan masyarakat,
° Mengurangi limbah lingkungan,
° Mendorong kreativitas dan kemandirian,
° Menghasilkan produk bernilai ekonomi,
° Sekaligus memperkuat identitas Waerana sebagai daerah penghasil kelapa yang inovatif dalam memanfaatkan hasil sampingannya. 

I. Kesimpulan

Program pengolahan limbah sabut kelapa menjadi produk keset kaki di Desa Waerana sebagai implementasi PKM berbasis keterampilan praktis telah berhasil dilaksanakan dengan baik. Kegiatan ini mampu meningkatkan pengetahuan dan keterampilan masyarakat dalam memanfaatkan limbah sabut kelapa yang sebelumnya kurang bernilai menjadi produk yang memiliki nilai guna dan nilai ekonomi. Melalui pelatihan dan pendampingan yang dilakukan, masyarakat menjadi lebih kreatif, mandiri, serta memiliki peluang untuk mengembangkan usaha rumahan berbasis potensi lokal.

Selain itu, program ini juga memberikan dampak positif terhadap lingkungan dengan mengurangi limbah sabut kelapa yang berpotensi mencemari lingkungan. Dengan demikian, kegiatan PKM ini tidak hanya berkontribusi pada peningkatan keterampilan dan kesejahteraan masyarakat, tetapi juga mendukung upaya pelestarian lingkungan serta pengembangan ekonomi kreatif di kampung Waerana.

2. Saran

Berdasarkan hasil pelaksanaan kegiatan, disarankan agar program pengolahan limbah sabut kelapa ini dapat dilanjutkan dan dikembangkan secara berkelanjutan oleh masyarakat setempat. Perlu adanya dukungan dari pemerintah desa maupun pihak terkait dalam bentuk pendampingan lanjutan, penyediaan alat produksi, serta pelatihan pemasaran produk agar hasil produksi dapat menjangkau pasar yang lebih luas.

Selain itu, diharapkan masyarakat dapat terus berinovasi dalam mengembangkan variasi produk olahan sabut kelapa agar memiliki daya saing yang lebih tinggi. Bagi pelaksana kegiatan selanjutnya, disarankan untuk memperluas cakupan program dengan melibatkan lebih banyak peserta serta melakukan evaluasi secara berkala guna meningkatkan kualitas dan keberlanjutan program PKM.

DAFTAR PUSTAKA

Ariatma, I. K., Suryani, N. L., & Putra, I. G. A. (2020). Pemanfaatan serabut kelapa sebagai bahan baku pembuatan keset ramah lingkungan. Jurnal Teknologi dan Industri Kreatif, 5(2), 45–52.

Fahruddin, F., Nurhadi, M., & Rahman, A. (2019). Pemanfaatan serat alami sebagai bahan alternatif alat kebersihan rumah tangga. Jurnal Rekayasa Lingkungan, 7(1), 12–19.

Kardiman, K., Sari, D. P., & Hidayat, R. (2020). Pengolahan limbah sabut kelapa menjadi produk bernilai ekonomi. Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat, 4(3), 210–216.

Ramadhani, R. (2023). Inovasi pemanfaatan limbah serabut kelapa dalam pengembangan produk kerajinan. Jurnal Ekonomi Kreatif dan UMKM, 6(1), 33–40.
Tutup Iklan
Hubungi Kami untuk Beriklan