A. Nuralfian Mahasiswa Ilmu Falak UINAM Raih Gelar Sarjana Hukum Lewat Kajian Pesisir Maros
Mei 25, 2026
GOWA, Foxnesia.com - Di kalangan sahabat dan rekan organisasinya, A. Nuralfian lebih akrab disapa “Bolang”. Sapaan itu melekat sejak dirinya menjadi pemeran dalam program Bocah Petualang (Bolang) di Trans7 pada tahun 2014.
Pengalaman masa kecil itu menjadi bagian dari perjalanan hidup yang membentuk kedekatannya dengan alam, masyarakat, dan kehidupan pesisir tempat ia tumbuh.
Lahir di Maros pada 26 Januari 2003, Bolang merupakan anak keempat dari lima bersaudara, pasangan H. Andi Hamsir dan Hj. Rohani.
Ia tumbuh di lingkungan sederhana masyarakat pesisir yang kehidupannya sangat bergantung pada laut dan alam sekitar. Dari tempat itulah ia belajar tentang perjuangan, ketekunan, dan arti bertahan dalam keterbatasan.
Perjalanan akademiknya di Program Studi Ilmu Falak Fakultas Syariah dan Hukum UIN Alauddin Makassar akhirnya mengantarkannya meraih gelar Sarjana Hukum melalui penelitian berjudul “Studi Falakiyah terhadap Pola Pasang Surut Air Laut di Pesisir Maros: Kajian terhadap Dampaknya bagi Ekosistem Mangrove dan Budidaya Pesisir.”
Penelitian tersebut lahir dari kedekatannya dengan kehidupan masyarakat pesisir Maros.
Baginya, fenomena pasang surut air laut bukan sekadar gejala alam biasa, tetapi bagian penting dari kehidupan masyarakat yang mempengaruhi aktivitas budidaya pesisir dan keberlangsungan ekosistem mangrove.
Sebagai mahasiswa Ilmu Falak, ia mencoba menghadirkan kajian yang lebih dekat dengan realitas sosial masyarakat.
Menurutnya, ilmu falak tidak hanya berbicara tentang astronomi dan penentuan waktu ibadah, tetapi juga dapat menjadi pendekatan ilmiah untuk membaca fenomena alam yang berdampak langsung pada kehidupan manusia.
Di tengah proses akademiknya, Bolang dikenal aktif dalam berbagai organisasi kemahasiswaan dan kepemudaan. Ia pernah menjabat sebagai Ketua Umum HPPMI Maros Komisariat UIN Alauddin Makassar serta Ketua Komisi Penyaluran Aspirasi Senat Mahasiswa Fakultas Syariah dan Hukum UIN Alauddin Makassar.
Selain itu, ia juga aktif sebagai fungsionaris HMI Komisariat Syariah dan Hukum dan pernah menjadi bagian dari DEMA UIN Alauddin Makassar selama dua periode. Saat ini, ia mengemban amanah sebagai Presidium HMI Cabang Gowa Raya dan Wakil Bendahara Umum PP HPPMI Maros.
Aktivitasnya tidak hanya berfokus di lingkungan kampus. Di kampung halamannya, ia turut memotori gerakan kepemudaan melalui Forum Pemuda Binanga Sangkara yang bergerak dalam bidang konservasi mangrove dan kepedulian sosial masyarakat pesisir. Ia juga aktif di Yayasan Pendidikan Lontara Hijau Foundation.
Meski aktif di berbagai ruang organisasi dan sosial, perjalanan menuju gelar sarjana tidak pernah dilaluinya dengan mudah. Baginya, pendidikan tidak lahir semata dari kecerdasan, tetapi juga dari doa dan perjuangan orang tua.
“Perjalanan menuju gelar sarjana pun tidak pernah lahir dari kecerdasan semata. Di baliknya ada doa-doa yang dipanjatkan diam-diam, ada peluh orang tua yang tak pernah tercatat dalam lembar akademik mana pun. Ayah dan ibu, dengan segala keterbatasannya, adalah universitas pertama dalam hidup saya. Mereka mengajarkan keteguhan ketika dunia terasa tidak berpihak dan mengajarkan harapan ketika keadaan hampir mematahkan keyakinan,” ungkapnya, Senin (25/05/26).
Bolang juga menyoroti kondisi pendidikan di wilayah pesisir yang menurutnya masih menyisakan banyak ketimpangan. Ia menilai bahwa anak-anak pesisir sering kali harus berjuang lebih keras untuk memperoleh kesempatan pendidikan yang layak.
“Ada kenyataan yang harus disampaikan dengan jujur bahwa ketimpangan pendidikan di wilayah pesisir bukanlah takdir alam, melainkan persoalan struktural yang terus dibiarkan berlangsung. Ketika kualitas pendidikan masih ditentukan oleh letak geografis dan kondisi ekonomi, maka keadilan sosial sejatinya belum benar-benar hadir,” tuturnya.
Ia melanjutkan, terlalu banyak anak-anak pesisir yang sebenarnya memiliki kemampuan, tetapi kehilangan kesempatan karena keterbatasan akses dan minimnya keberpihakan.
“Terlalu banyak anak pesisir memiliki kemampuan, tetapi kehilangan kesempatan. Terlalu banyak mimpi kandas bukan karena kurang kecerdasan, melainkan karena minim keberpihakan. Padahal Indonesia dibangun bukan hanya oleh mereka yang hidup di pusat kota, tetapi juga oleh anak-anak dari kampung nelayan, pulau-pulau kecil, dan wilayah pesisir yang sering dilupakan," ujarnya.
Keberhasilannya meraih gelar Sarjana Hukum dari Program Studi Ilmu Falak Fakultas Syariah dan Hukum UIN Alauddin Makassar menjadi bagian dari perjalanan panjang tersebut. Namun baginya, capaian itu bukan akhir dari perjuangan.
“Hari ini saya berdiri sebagai bagian dari proses panjang itu, bukan sebagai pemenang dalam perlombaan hidup, melainkan sebagai seseorang yang memilih untuk tidak berhenti berjalan. Sebab saya percaya bahwa tidak ada kata terlambat dalam kehidupan. Yang ada hanyalah mereka yang menyerah di tengah jalan dan mereka yang tetap melangkah meski ombak terus datang menghantam,” katanya.
Di akhir perjalanannya sebagai mahasiswa, Bolang memegang satu keyakinan yang terus menjadi pengingat dalam setiap langkah pengabdiannya:
“Kita tidak hanya mewarisi tanah, tapi juga memikul tanggung jawab sejarah.”
Haeril