Dari Rumah ke Espresso, Kopi Terus Berevolusi
Desember 25, 2025
MAKASSAR, Foxnesia.com – Kopi kekinian kini tak hanya berbicara soal rasa, tetapi juga inovasi dalam proses penyajiannya. Salah satu tren terbaru yang semakin populer di berbagai kafe adalah kopi tanpa ampas.
Ini menjadi perbedaan signifikan antara kopi yang diseduh dengan cara tradisional di rumah dan kopi yang disajikan di kafe-kafe modern saat ini.
Banyak kafe yang kini mengandalkan mesin espresso bertekanan tinggi untuk menghasilkan kopi yang lebih murni, tanpa ampas yang biasa terdapat pada seduhan kopi rumahan.
Dengan teknologi penyaringannya yang canggih, mesin espresso dapat menghasilkan ekstraksi kopi yang pekat dan halus, memastikan tidak ada ampas yang mengganggu rasa.
Ini memberi pengalaman ngopi yang lebih bersih dan konsisten, dengan tekstur yang lembut dan rasa yang lebih fokus.
Kopi tanpa ampas memiliki kelebihan, terutama dalam hal kebersihan dan rasa yang lebih halus. Dengan proses penyaringan yang lebih presisi, kopi yang dihasilkan cenderung memiliki tekstur yang lebih lembut, tidak terlalu pahit, dan lebih mudah dicerna.
Beberapa pecinta kopi menganggap ini sebagai pengalaman baru yang menyegarkan dan lebih elegan, terutama bagi mereka yang sebelumnya tidak terlalu suka dengan kopi berampas yang kerap terasa kasar di mulut.
Nura Coffee di Jl. Adyaksa Baru 20A, Kec. Panakukkang, Kota Makassar bukan sekadar kafe, melainkan laboratorium rasa di mana espresso menjadi jantung setiap menu.
Berawal dari kopi rumahan, founder Nura, Winduri mengatakan bahwa ini sebenarnya Nura dia berawal dari kopi rumahan.
"Suamiku tuh awalnya dulu tidak tahu minum kopi. Baru pi 3 tahun ini baru dia ada fashionnya di situ sampai akhirnya mulai dari rumah dulu dan ternyata respon dari lingkungan sekitarlah, positif sekali," ujarnya, Kamis (25/12/25).
Kini, kedai minimalis elegan ini meracik kopi kekinian dengan presisi, menjaga pahit espresso sebagai identitas di tengah lapisan susu dan sirup.
Dari biji lokal ke ekstrak mesin, kalibrasi harian Barista dengan proses dimulai pagi hari. Biji kopi lokal digiling halus, ditimbang tepat, ditamping dalam portafilter, lalu diekstrak mesin espresso pada tekanan tinggi selama 25-30 detik menghasilkan shot 30 ml pekat tanpa ampas.
Junior barista Nura, Rahmatullah yang baru tiga bulan belajar dari server, menjelaskan perbedaan mendasar.
“Sebenarnya, kalau yang di rumah itu kan dia dari bubuk kopi langsung diseduh. Kalau di sini dia pakai penyaringan dan menggunakan mesin. Jadi, diatidak ada ampasnya," ungkapnya.
Founder menambahkan, “Barista pun juga harus yang namanya kalibrasi, ekstraksi kopi tiap harinya harus sama karena kalau ekstraksinya beda otomatisrasa juga beda," katanya.
Dosen tata boga Universitas Negeri Makassar (UNM), Dr. Slamet Widodo, menekankan prinsip serupa.
“Titik seduhnya itu juga harusdiperhatikan karena titik seduhnyakan harus 100 derajat itukopinya airnya. Kalau setengah matang pasti dia tidak terlalu bagus," jelasnya.
Di mata kuliah tata boga, mahasiswa dilatih mencicip rasa dasar sebelum campur, memahami identitas pahit kopi.
Dari menunya sendiri yang dikeluarkan, Es Kopi Nura dengangradasi aren, susu, dan crema panas. Signature Es Kopi Nura memadukan tren gula aren dengan twist salted caramel.
Gelas disiapkan berlapiskan sirup aren cair di dasar, es batu, susu UHT dingin 100-150 ml, lalu espresso panas dituang perlahan membentuk gradasi cokelat sebelum diaduk ringan.
“Best seller kamituh di sini, ada kopi susu aren, butterscotch," katanya.
Teknik menuang lambat ciptakan lapisan rasa karamel alamiaren yang menyatu sempurna dengan kopi lokal. Namun cafe inimempunyai menu dengan nama Lemonade Stevia Americano, hal ini di mana americano dengan campuran lemon dan sedikit gula stevia menghasilkan rasa asem dan segar.
Ibu Perawati dari UNM menilai inovasi seperti ini, Kalau kopi pakai lemon itu atau pakai sirup, itu jadinya kan lebih asem tapi tergantung orangnya, ingin menyukai kopi yang bagaimana. Namun ia ingatkan, penambahan bahan akan mengubah nilaigizi kopi.
Butterscotch Latte dengan lapisan gurih buttery ala dessert adalah Best seller absolut, Butterscotch Latte diracik seperti kuecair dengan sirup butterscotch di dasar gelas, susu 100 ml di-steam hingga berbusa lembut, tambah 5 ml salted caramel, lalu espresso dituang membelah foam.
“Dia pakai sirup butterscotch, ada salted-nya 5 ml, pakai susu 100 ml. Terus ada foam-nya di atas, pakai karamel juga dan semacam biskuit,” ungkap Barista.
Rasa buttery manis ditahan asin tipis caramel, espresso pahitmuncul di aftertaste.
Namun, Slamet juga soroti tentang faktor kuliner Yang kekiniankan di samping memang rasanya. Yang kedua penampilannya. Kemudian suasana cafenya.
Americano & Triple Sweet adalah transisi ke kopi murni. Americano dengan espresso shot ditambah air panas/es, tanpasusu.
“Espresso itu yang ekstraksinya kopi dari mesin. Kalau Americano yaitu dia sudah dicampur dengan air," ungkap founder.
Dari menu Triple Sweet beri jembatan dengan Americano dasar ditambah tiga sirup buah sepertipeach/orange/strawberry, ciptakan sensasi asam dan segar bagi pemula.
Perawati komentari, “Americano dengan kopi tradisional itukan kandungannya sama, hanya di suhu. Bedanyahanya di suhu saja," ujarnya.
R&D ala Farmasi akhirnya lahir menu Nura. “Ide-ide resep terusmuncul akhirnya ngeracik lalu R&D terus R&D terus ya akhirnya nemu rasa yang pas,” kata founder.
Dulu meracik obat, ini meracik kopi. Lalu melakukan uji coba keluarga pastikan kopinya tetap terasa. Slamet nilai ini sebagaiinovasi, Inovasi iya. Pergeseran kopi iya. Cuma arahnya kevariasi. Namun Perawati juga menambahkan, “Pelaku usaha semakin banyak, mereka akan membuat inovasi-inovasi terbaru.
Nura Coffee membuktikan dan mewakili bahwa kopi Makassar kini bertransformasi dari kopi sederhana menjadi pengalaman kuliner berlapis rasa dengan presisi espresso sebagai jembatan inovasi dan tradisi.
Di tengah prediksi tren 2025 menuju Americano dingin, kedai ini mengajak pecinta kopi menikmati keseimbangan pahit-manis yang autentik dan rasakan sendiri evolusi rasa dalam setiap teguk.
Penulis : Nurul Aisyah Ramadhani (Mahasiswa Jurnalistik, UIN Alauddin Makassar)