FOXLINE NEWS
Mode Gelap
Artikel teks besar

Taman Asmantoga: Transformasi Ruang Hijau Sebagai Paru-paru dan Pusat Edukasi Desa Kalipang


ABSTRAK, Foxnesia.com - Taman Asmantoga (Apotek Hidup Tanaman Obat dan Toga) di Desa Kalipang, Kecamatan Grati Kabupaten Pasuruan, adalah hasil inovasi pemberdayaan masyarakat yang mengintegrasikan konservasi lingkungan dengan edukasi kesehatan melalui kearifan lokal. 

Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis transformasi ruang hijau menjadi pusat edukasi berkelanjutan di Desa Klipang dengan beberapa program seperti renovasi, penanaman, dan sosialisasi yang dilaksanakan pada 1-3 Agustus 2025. Metode dalam penelitian ini adalah dengan menggunakan pendekatan kualitatif partisipatif dengan melibatkan mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN), kader PKK, Karang Taruna, dan masyarakat setempat. 

Hasil penelitian menunjukkan bahwa Taman Asmantoga berhasil menjadi model pemberdayaan masyarakat yang menggabungkan fungsi ekologis, edukatif, dan juga ekonomis, serta menciptakan ruang hijau produktif yang berfungsi sebagai paru-paru desa sekaligus sumber pengetahuan tentang pemanfaatan tanaman obat tradisional untuk kesehatan keluarga.

Kata Kunci: Taman Asmantoga, pemberdayaan masyarakat, konservasi lingkungan, tanaman obat tradisional, Desa Kalipang

1. PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Warga di Desa Kalipang, Kecamatan Grati, Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur, sebagian besar menggantungkan hidupnya pada sektoe pertanian. Letaknya yang berdekatan dengan aktivitas pertambangan membuat Desa Kalipang menghadapi kesulitam untuk menjaga keseimbangan antara aktivitas ekonomi dan kelestarian lingkungan. Dengan adanya hal tersebut, ruang hijau semakin sempit, padahal, ruang hijau berfungsi besar sebagai paru-paru desa untuk bisa menyerap polusi.

Selain karena letaknya yang berdekatan dengan lokasi pertambangan yang menyebabkan desa Kalipang kesulitan melestarikan lingkungan, mereka juga mengalami keterbatasan dalam hal akses terhadap layanan kesehatan seperti rumah sakit besar yang memadai. Masyarakat desa Kalipang sampai saat ini masih bergantung pada layanan kesehatan dengan kearifan lokal, yaitu salah satunya melalui pemanfaatan tanaman obat keluarga (TOGA). 

Tanaman obat tradisional ini dinilai lebih mudah diperoleh, murah, dan minim efek samping. Namun, pengetahuan masyarakat tentang jenis, cara budidaya, serta pemanfaatan tanaman obat masih cukup terbatas pada generasi tertentu dan terancam hilang jika tidak diwariskan. Maka dari itu, diperlukan upaya pelestarian sekaligus revitalisasi fungsi tanaman obat sebagai bagian dari ketahanan kesehatan masyarakat desa Kalipang.

Dari permasalahan tersebut, Taman Asmantoga hadir sebagai inovasi ruang hijau produktif yang tidak hanya sebagai upaya melindungi ataupun mengelola dan melestarukan tanaman obat, tetapi juga sebagai upaya menjadikannya sebagai pusat edukasi. Transformasi taman Asmantoga ini adalah hasil dari kolaborasi antara mahasiswa Kuliah Kerja Nyata di Desa Kalipang, pemerintah desa, PKK, Karang Taruna, dan masyarakat setempat, yang menjadikan taman Asmantoga sebagai tempat terbuka yang mengajarkan cara mengenal, menanam, hingga mengolah tanaman obat keluarga.

Berdasarkan latar belakang tersebut, penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bagaimana proses transformasi ruang hijau komunitas bisa berfungsi secara optumal sebagai paru-paru di Desa Kalipang, dan sejauh mana taman Asmantoga ini bisa berperan sebagai pusat edukasi yang efektif untuk masyarakat serta dampak dari program renovasi, penanamn dan sosalisasi terhadap pemberdayaan masyarakay di desa Kalipang. Dengan menggunakan pendekatan partisipatif, penelitian ini diharapkan bisa memberikan kontribusi praktis untuk pengembangan model ruang hijau produktif yang dapat direplikasi di desa lain.

1.2 Rumusan Masalah

1. Bagaimana proses transformasi ruang hijau komunitas agar dapat berfungsi optimal sebagai paru-paru desa?

2. Sejauh mana Taman Asmantoga mampu berperan sebagai pusat edukasi yang efektif bagi masyarakat?

3. Apa saja dampak program renovasi, penanaman, dan sosialisasi terhadap pemberdayaan masyarakat Desa Kalipang?

1.3 Tujuan Penelitian

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan proses transformasi Taman Asmantoga sebagai ruang hijau yang berfungsi optimal sebagai paru-paru desa, kemudian menganalisis perannya sebagai pusat edukasi berkelanjutan bagi masyarakat, dan juga mengidentifikasi dampak program renovasi, penanaman, dan sosialisasi terhadap pemberdayaan masyarakat Desa Kalipang, baik dalam peningkatan pengetahuan kesehatan, keterampilan teknis, maupun penguatan modal sosial.

2. TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Konsep Ruang Hijau Produktif
Ruang hijau produktif atau yang bisa disebut dengan Ruang Terbuka Hijau (RTH) adalah bagian dari ruang-ruang terbuka atau open space yang bisa diisi dengan tumbuhan, tanaman dan vegeyasi yang berguna untuk mendukung manfaat ekologis, sosial-budaya dan arsitekstural yang bisa memberikan mandaat kesejahteraan ekonomi bagi masyarakat setempat. RTH memiliki fungsi sebagai ameliorasi iklim dengan menciptakan iklim di lingkungan tertentu menjadi nyaman atau iklim mikro dan bayang-bayang pohon bisa menciptakan keteduhan.

Dalam lingkup pedesaan, ruang hijau produktif bisa diwujdukan melalui taman komunitas seperti taman Asmantoga, kemudian kebun keluarga, atau area konservasi tanaman lokal yang bisa bermanfaat untuk ketahanan pangan, perbaikan kualitas udara, dan juga bisa menjadi sarana rekreasi dan pembelajaran bagi masyarakat setempat.

Knsep ruang hijau produktif menekankan pentingnya integrasi antara konservasi alam dan pemberdayaan masyarakat. Ruang hijau yang dikelola secara partisipatif dapat menjadi wadah interaksi sosial, peningkatan kapasitas warga, serta penciptaan peluang ekonomi berbasis sumber daya lokal. Ruang hijau produktif ini juga memiliki fungsi di lingkungan pemukiman masyarakat, diantaranya dalam aspek ekologis (seperti penyerap karbon dan pelindung keanekaragaman hayati), aspek sosial (tempat berkumpul, rekreasi, dan edukasi), dan juga aspek ekonomis (pengembangan tanaman bernilai guna).

2.2 Taman Obat Keluarga (TOGA)
Menurut Peraturan Menteri Kesehatan RI Nomor 9 Tahun 2016 (23), Tanaman Obat Keluarga (TOGA) adalah beberapa tanaman berkhasiat sebagai obat untuk kesehatan keluarga yang ditata menjadi sebuah taman yang mempunyai nilai estetika atau keindahan. TOGA ini umumnya ditanam di pekarangan rumah atau di halaman rumah, yang berguna sebagai pemenuhan sebagian kebutuhan obat-obatan ringan untuk diri sendiri dan keluarga yang dilakukan secara mandiri, misalnya tanaman toga seperti jahe dan sebagainya untuk mengatasi batuk, demam, diare, atau gangguan pencernaan..

Dalam praktiknya, TOGA tidak hanya sekadar kegiatan menanam tanaman obat, tetapi juga membutuhkan proses edukasi kepada masyarakat tentang bagaimana cara memilih, menanam, merawat, sampai kemudian mengolah tanaman tersebut. Beberapa jenis tanaman yang umum dibudidayakan antara lain seperti jahe, kunyit, temulawak, kencur, lidah buaya, dan sirih. Setiap tanaman ini memiliki khasiat yang berbeda, sehingga pemilihan ragam tanaman biasanya disesuaikan dengan kebutuhan kesehatan keluarga.

Selain memiliki manfaat dalam hal kesehatan, program TOGA ini juga membawa keuntungan pada aspek sosial dan ekonomi. Tanaman obat keluarga yang dikelola dengan baik dan benar bisa menjadi sarana saling belajar bersama antar tetangga, dan juga bisa membuka peluang usaha berbasis tanaman herbal. Hasil olahan dari tanaman obat, seperti jamu, minuman herbal, maupun minyak atsiri, bisa menjadi ide bisnis yang mempunyai nilai ekonomi yang mendukung peningkatan kesejahteraan masyarakat desa.

2.3 Pemberdayaan Masyarakat Berbasis Lingkungan
Pemberdayaan  berbasis lingkungan merupakan pendekatan pembangunan yang menempatkan warga sebagai aktor utama dalam pengelolaan sumber daya alam. Konsep ini berkembang dari gagasan pembangunan partisipatif yang menekankan pada keterlibatan aktif masyarakat sejak tahap perencanaan hingga pelaksanaan program. Chambers (1995) menekankan bahwa keberhasilan program lingkungan bergantung pada sejauh mana masyarakat merasa memiliki dan berperan dalam proses tersebut.

Untuk mewujudkan Ruang Hijau sebagai paru paru dan pusat edukasi, maka diperlukan partisipasi dari masyarakat sekitar. Keikutsertaan masyarakat dalam mengembangkan ruang hijau produktif bisa diwujudkan melalui penataan Taman Asmantoga di Desa Kalipang. Partisipasi masyarakat dalam pengembangan Taman Asmantoga ini dapat diwujudkan melalui kegiatan penghijauan, pengelolaan sampah, konservasi air, hingga pemanfaatan ruang hijau produktif. Selain itu, partisipasi masyarakat juga mencakup transfer pengetahuan, pembentukan kader lokal, serta penguatan kelembagaan masyarakat. Hal ini penting karena keberlanjutan sebuah program lingkungan sangat dipengaruhi oleh adanya struktur sosial yang solid serta sumber daya manusia yang mampu melanjutkan program setelah pendampingan eksternal selesai.

3. METODE PENELITIAN

3.1 Lokasi dan Waktu Penelitian
Pelaksanaan penelitian ini berlokasi di Desa Kalipang, Kecamatan Grati, Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur, tepatnya di daerah yang dikenal dengan sebutan Taman Asmantoga. Desa Kalipang dipilih sebagai lokasi penelitian karena memiliki karakteristik sosial-ekonomi yang menarik, karena sebagian besar masyarakatnya bergantung pada sektor pertanian namun juga harus berhadapan dengan aktivitas pertambangan yang sudah pasti memengaruhi kualitas lingkungan disekitarnya. Kondisi tersebut menjadikan keberadaan ruang hijau seperti Taman Asmantoga sangat penting untuk penyeimbang ekologi maupun sarana pemberdayaan masyarakat setempay. Selain itu, lokasi ini juga relevan karena program revitalisasi taman merupakan hasil kolaborasi nyata antara mahasiswa KKN, perangkat desa, dan juga masyarakat lokal.

Penelitian ini berlangsung pada tanggal 1–3 Agustus 2025, bertepatan dengan masa pelaksanaan program KKN. Dalam waktu tiga hari ini, penelitian berfokus pada beberapa kegiatan yang meliputi rapat perencanaan, proses renovasi fasilitas taman, penanaman tanaman obat, dan juga sosialisasi pemanfaatan TOGA kepada masyarakat setempat.

3.2 Pendekatan Penelitian
Penelitian ini adalah penelitian kualitatif dengan menggunakan pendekatan Participatory Action Research (PAR). Model PAR dipilih karena sesuai dengan konteks penelitian yang tidak hanya menekankan pada pengumpulan data, tetapi juga melibatkan partisipasi masyarakat dalam proses perencanaan, pelaksanaan, hingga evaluasi kegiatan. Dengan memakai pendekatan ini, peneliti akan lebih mudah untuk menggali pemahaman yang lebih menyeluruh mengenai pengalaman masyarakat Desa Kalipang, sekaligus mendorong partisipasi aktif mereka dalam upaya transformasi Taman Asmantoga menjadi ruang hijau yang produktif.

Dalam pelaksanaannya, PAR diwujudkan melalui observasi partisipatif, wawancara, dan dokumentasi, di mana masyarakat tidak hanya menjadi objek penelitian, tetapi juga subjek yang berperan dalam proses perubahan. Keterlibatan aktif warga bersama mahasiswa KKN menjadikan penelitian ini bersifat kolaboratif, sehingga hasilnya tidak hanya berupa deskripsi fenomena, melainkan juga refleksi bersama yang dapat dijadikan dasar bagi keberlanjutan program pemberdayaan berbasis lingkungan.

3.3 Subjek Penelitian
Subjek dalam penelitian ini terdiri dari beberapa kelompok yang terlibat langsung dalam kegiatan di Taman Asmantoga, diantaranya adalah Mahasiswa KKN yang menjadi bagian penting karena mereka bersama dengan masyarakat merancang dan menjalankan program sejak awal. Kemudian Kader PKK Desa Kalipang juga dilibatkan dalam mendukung pemanfaatan dan pengelolaan tanaman obat keluarga, karena mereka memiliki kedekatan dengan kegiatan kesehatan rumah tangga di desa.

Selain itu, anggota Karang Taruna juga ikut serta dalam berbagai kegiatan lapangan, mulai dari penanaman sampai pemeliharaan taman. Dalam beberapa kesempatan, perangkat desa juga berperan dalam memberi dukungan administratif sekaligus memfasilitasi keterlibatan masyarakat. Warga masyarakay Desa Kalipang tergabung dalam kelompok 1 sampai 5 yang ikut serta secara aktif dalam perawatan dan pemanfaatan TOGA.

3.4 Teknik Pengumpulan Data
Pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukan melalui beberapa teknik yang disesuaikan dengan kebutuhan lapangan.

1. Observasi
Observasi partisipan dilakukan selama kegiatan renovasi, penanaman, dan sosialisasi, di mana peneliti ikut terlibat langsung dalam kegiatan renovasi taman, proses penanaman, sampai kegiatan sosialisasi bersama masyarakat.

2. Wawancara dan dokumentasi
Wawancara mendalam dilakukan bersama pihak-pihak yang berperan penting, seperti perangkat desa, kader PKK, dan juga beberapa masyarakat. Wawancara ini diperlukan untuk menggali pandangan, pengalaman, dan harapan mereka terhadap keberlangsungan Taman Asmantoga. Dokumentasi juga digunakan sebagai pelengkap, meliputi pencatatan proses kegiatan, foto-foto, hingga hasil dari program yang dijalankan.

3. Focus Group Discussion (FGD)
Focus Group Discussion (FGD) dilakukan dengan beberapa kelompok masyarakat. Dalam forum ini, warga akan menyampaikan pandangan secara terbuka, saling bertukar ide, dan memberikan masukan bersama mengenai pemanfaatan serta keberlanjutan taman.

4. HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Proses Transformasi Taman Asmantoga
4.1.1 Tahap Perencanaan dan Koordinasi
Tahap awal dari proses transformasi Taman Asmantoga dimulai dengan menyusun rencana kerja melalui forum Rapat Rencana Kerja Pemerintah (RKP) yang dilaksanakan pada 1 Agustus 2025 di Balai Desa Kalipang. Forum ini dihadiri oleh perangkat desa, Karang Taruna, dan juga aparat keamanan sebagai pihak yang memiliki peran penting dalam mengawal jalannya program.

Dalam forum ini, perangkat desa menekankan pentingnya integrasi program pengembangan taman dengan agenda pembangunan desa yang lebih luas. Hal ini dipandang sebagai langkah strategis agar Taman Asmantoga tidak sekadar menjadi proyek dalam jangka waktu yang pendek, tapi bisa masuk dalam prioritas pembangunan berkelanjutan. Karang Taruna sebagai pemuda desa juga ikut memberikan masukan beberapa konsep kreatif.

4.1.2 Tahap Implementasi Renovasi
Tahap implementasi renovasi Taman Asmantoga dilakukan dengan melibatkan partisipasi aktif masyarakat melalui kegiatan gotong royong. Warga bersama perangkat desa dan Karang Taruna bersama sama memperbaiki dan menata kembali fasilitas taman agar lebih layak digunakan. implementasi renovasi ini meliputi:

1. Perbaikan Infrastruktur Dasar
Pada tahap ini, fokus kegiatan diarahkan pada perbaikan jalur keluar masuk agar pengunjung bisa lebih mudah dan nyaman beraktivitas di dalam taman. Selain itu, sistem drainase juga dibuat yang lebih baik untuk mengatasi masalah genangan air saat musim hujan. Penambaha fasilitas pendukung seperti bangku taman dan papan informasi juga ditingkatkan agar pengunjung merasa lebih nyaman ketika berada di area taman.

Perbaikan jalur ini bernilai positif karena dilakukan demi kenyamanan pengunjung. Sebelumnya, beberapa jalur itu sempit dan licin ketika hujan yang membuat minat masyarakat untuk berkunjung itu berkurang. Setelah dilakukan renovasi, jalur menjadi lebih rapi, aman, dan mudah diakses oleh semua kalangan, termasuk anak-anak dan juga lansia. Selain itu, perbaikan ini juga mempermudah proses perawatan taman, karena petugas dapat lebih leluasa dalam membawa peralatan atau melakukan pembersihan.

Selain itu, keberadaan fasilitas pendukung seperti bangku taman dan papan informasi tidak hanya berfungsi sebagai sarana penunjang kenyamanan, tetapi juga memperkuat aspek edukasi. Papan informasi yang dipasang memberikan penjelasan singkat mengenai jenis tanaman obat maupun manfaat ekologisnya, sehingga taman Asmantoga tidak hanya menjadi ruang rekreasi, tetapi juga sebagai ruang belajar untuk masyarakat.

2. Penataan Lansekap
Penataan lansekap dilakukan dengan cara membagi zona tanaman berdasarkan jenis dan fungsi, sehingga tana,am lebih tertata dan mudah dikenali. Di sisi liannya juga dibangun area khusus untuk mengenalkan pengolahan tanaman obat sebagai sarana pembelajaran bagi masyarakat. Pengaturam lansekap ini tidak hanya untuk edukasi saja, tapi juga memperhatikan aspek keindahan visual yang membuat taman terlihat lebih menarik dan nyaman dipandang.

Pembagian zona atau lansekap ini mempermudah pengunjung dalam memahami dan mengidentifikasi setiap jenis tanaman. Misalnya, tanaman obat ditempatkan di area khusus yang dekat dengan tempat pembelajatam, sementara tanaman peneduh dan hias diletakkan di titik-titik yang strategis untuk menciptakan pemandangan yang seimbang.

4.1.3 Tahap Penanaman dan Konservasi
Penanaman dan konservasi di Taman Asmantoga dilaksanakan secara sistematis dengan melibatkan masyarakat dan juga tim pelaksana. Program ini menekankan tiga aspek utama, yaitu keanekaragaman hayati lokal, penanaman sayuran organik, dan penataan berdasarkan fungsi ekologis.

1. Keanekaragaman Hayati Lokal
Penanaman tanaman obat difokuskan pada jenis-jenis asli Jawa Timur. Beberapa varietas lokal yang mulai langka kembali dibudidayakan agar tetap terjaga keberadaannya dan bisa menjadi media pembelajaran bagi masyarakat. Dalam hal ini, masyarakat terlibat langsung dalam proses penanaman, sehingga pengetahuan tentang karakteristik tanaman dan kegunaannya turut tersampaikan secara praktis.

Selain mempertahankan varietas lokal, diperkenalkan juga tanaman obat baru yang dinilai mampu beradaptasi dengan kondisi iklim Desa Kalipang. Pendekatan ini dilakukan untuk memperluas koleksi taman sekaligus memberikan alternatif tanaman yang bermanfaat bagi pengobatan tradisional keluarga.

2. Penanaman Sayuran Organik
Program ini juga melibatkan penanaman sayuran organik sebagai bagian dari ketahanan pangan keluarga. Setiap tahap budidaya, mulai dari penanaman hingga panen, dilakukan secara demonstratif agar masyarakat bisa mempelajari teknik budidaya organik yang ramah lingkungan. Model ini memudahkan warga untuk meniru pola budidaya di pekarangan rumahnya masing-masing.

Kegiatan ini menekankan bahwa taman tidak hanya berfungsi sebagai ruang hijau publik, tetapi juga bisa dijadikan sebagai sarana pembelajaran praktis. Melalui demonstrasi langsung, masyarakat bisa melihat bagaimana cara memanfaatkan lahan yang terbatas tapi tetap bisa menghasilkan tanaman yang sehat dan produktif.

3. Penataan Berdasarkan Fungsi Ekologis
Tanaman di taman ditempatkan sesuai dengan fungsi ekologisnya. Pohon peneduh ditanam di area strategis untuk menciptakan iklim mikro yang nyaman bagi pengunjung. Beberapa tanaman dipilih karena kemampuannya menyerap polusi udara, sehingga taman turut berperan sebagai paru-paru desa. Selain itu, ada tanaman yang sengaja ditanam untuk menarik satwa seperti burung dan serangga penyerbuk, yang membantu menjaga keseimbangan ekosistem di taman. Pola penanaman ini menunjukkan integrasi antara manfaat estetika, edukasi, dan ekologis dalam satu ruang hijau komunitas.

4.2 Fungsi Taman Asmantoga sebagai Paru-paru Desa
4.2.1 Kontribusi Ekologis
Taman Asmantoga memberikan kontribusi terhadap kualitas lingkungan di Desa Kalipang. Beberapa manfaat ekologis bisa terlihat dari kemampuan taman dalam menyerap karbon dioksida, memproduksi oksigen, dan mengatur iklim mikro di sekitarnya. Secara lebih rinci, peran ekologis taman dapat dijelaskan melalui beberapa aspek berikut:

1. Penyerapan Karbon Dioksida
Tanaman dewasa yang tumbuh di Taman Asmantoga memiliki kemampuan menyerap karbon dioksida (CO₂) hingga sekitar 21,8 kg per tahun. Penyerapan ini membantu mengurangi kadar gas rumah kaca di udara, yang menjadi salah satu penyebab perubahan iklim lokal. Aktivitas penyerapan CO₂ ini terjadi secara alami melalui proses fotosintesis, sehingga setiap pohon yang ada di taman memberikan kontribusi nyata bagi kualitas udara di Desa Kalipang.

Selain itu, lokasi taman yang dekat dengan area pertambangan membuat peran penyerapan karbon menjadi lebih strategis. Taman berfungsi sebagai zona penyangga, mengurangi dampak polusi dari aktivitas pertambangan yang menghasilkan deb.

Penulis :
Iman Safii (202310110311150)
Indah Permata Sari (202310110311150)
Saila Alif Irfani (202310110311116)
Khalid Reiza Alrasyid (202310110311126)

Tim PMM Kelompok 5 Universitas Muhammadiyah Malang, Desa Kalipang, Kecamatan Grati, Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur


Tutup Iklan
Hubungi Kami untuk Beriklan