Bukan Sekadar Tempat Pelatihan, Ini Peran P4S dalam Menyiapkan Generasi Baru Pertanian Indonesia
Agustus 12, 2026
BONE, Foxnesia.com – Ketahanan pangan tidak hanya berbicara mengenai ketersediaan bahan pangan di meja masyarakat. Di balik setiap proses produksi terdapat sumber daya manusia yang menjadi penentu keberlanjutan sektor pertanian.
Karena itu, menyiapkan generasi penerus yang memiliki pengetahuan, keterampilan, dan kemampuan beradaptasi dengan teknologi menjadi bagian penting dari pembangunan pertanian Indonesia.
Salah satu tantangan yang perlu mendapat perhatian adalah regenerasi petani. Berdasarkan Sensus Pertanian 2023, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat Indonesia memiliki 25,12 juta rumah tangga usaha pertanian dan 27,37 juta rumah tangga petani.
Besarnya jumlah tersebut menunjukkan bahwa sektor pertanian masih menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat sekaligus memiliki peran strategis dalam menjaga ketersediaan pangan nasional.
Namun, jumlah pelaku usaha tani yang besar belum otomatis menjamin keberlanjutan sektor pertanian. Perubahan struktur usia petani menunjukkan perlunya upaya untuk menyiapkan generasi penerus.
Regenerasi juga perlu disertai peningkatan kapasitas agar generasi muda mampu menghadapi perkembangan teknologi, tuntutan efisiensi produksi, serta perubahan model usaha tani.
Dalam kondisi tersebut, pendidikan dan pembelajaran menjadi salah satu fondasi penting. Petani membutuhkan ruang untuk memperoleh informasi, meningkatkan keterampilan, mencoba inovasi, dan bertukar pengalaman.
Salah satu kelembagaan yang dapat menjalankan fungsi tersebut adalah Pusat Pelatihan Pertanian dan Perdesaan Swadaya (P4S).
P4S merupakan wadah pembelajaran yang berkembang dari, oleh, dan untuk masyarakat pertanian. Melalui pelatihan, praktik lapangan, pendampingan, serta pertukaran pengalaman, P4S dapat membantu meningkatkan kapasitas pelaku usaha tani sekaligus memperluas akses masyarakat terhadap pengetahuan dan inovasi.
Fungsi P4S menjadi semakin penting ketika teknologi mulai menjadi bagian dari kehidupan pertanian. Sistem irigasi hemat air, sensor, Internet of Things (IoT), pengelolaan data, hingga pertanian presisi menawarkan peluang untuk meningkatkan efisiensi.
Namun, teknologi tidak akan memberikan manfaat maksimal apabila tidak diikuti kemampuan manusia dalam memahami dan menggunakannya.
Karena itu, modernisasi pertanian perlu berjalan beriringan dengan pembangunan sumber daya manusia. Petani bukan hanya perlu diperkenalkan pada teknologi, tetapi juga perlu memahami cara penggunaannya, manfaat yang dihasilkan, serta bagaimana teknologi tersebut dapat disesuaikan dengan kondisi di lapangan.
Pentingnya regenerasi dan peningkatan kapasitas tersebut juga sejalan dengan arah pembangunan sumber daya manusia pertanian.
Kementerian Pertanian menempatkan penguatan kompetensi dan kelembagaan sebagai bagian dari upaya membangun sektor pertanian yang lebih adaptif dan berkelanjutan.
Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman turut menekankan pentingnya regenerasi petani dalam mendukung agenda swasembada pangan. Generasi muda perlu dipersiapkan agar tidak hanya menjadi penerus, tetapi juga mampu menjadi penggerak inovasi dan perubahan di sektor pertanian.
Semangat tersebut menjadi salah satu dasar hadirnya Sikola P4S Lamellong, yang merupakan bagian dari inisiatif MANNENNUNGENG oleh Tim PPK Ormawa UKM Keilmuan dan Penalaran Ilmiah (KPI) Universitas Hasanuddin di Desa Kajaolaliddong, Kecamatan Barebbo, Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan.
Sikola P4S Lamellong dikembangkan untuk memperkuat fungsi P4S sebagai pusat pembelajaran masyarakat.
Penguatan dilakukan melalui penyusunan modul, pengembangan kurikulum manajemen kelembagaan, serta pendampingan yang diarahkan untuk membangun sistem pembelajaran yang dapat terus berjalan secara berkelanjutan.
Ketua Tim PPK Ormawa UKM KPI Universitas Hasanuddin, Muh Fadel S mengatakan bahwa penguatan P4S dalam program MANNENNUNGENG tidak hanya diarahkan untuk meningkatkan kemampuan teknis masyarakat, tetapi juga membangun kelembagaan yang mampu menjadi ruang belajar dan pengembangan inovasi secara berkelanjutan.
“Kami melihat P4S bukan hanya sebagai tempat pelatihan, tetapi sebagai ruang belajar bersama yang mempertemukan pengalaman petani dengan pengetahuan dan teknologi baru. Melalui Sikola P4S Lamellong, kami ingin mendorong agar masyarakat memiliki kapasitas untuk mengelola kelembagaan, mengadopsi inovasi, dan mengembangkan pertanian secara mandiri. Dalam jangka panjang, penguatan seperti ini diharapkan dapat membuka ruang yang lebih besar bagi generasi muda untuk melihat pertanian sebagai sektor yang modern, inovatif, dan memiliki masa depan," ujarnya, Rabu (12/08/26).
Menurutnya, keberadaan P4S diharapkan dapat memberikan ruang bagi masyarakat untuk belajar secara langsung, mengembangkan kapasitas, serta mengenal berbagai inovasi yang dapat diterapkan sesuai kebutuhan di lapangan.
Materi pembelajaran tidak hanya berfokus pada teknik budidaya. Petani juga memperoleh ruang untuk meningkatkan pemahaman mengenai pengelolaan organisasi, perencanaan usaha tani, pengembangan jejaring kemitraan, serta pemanfaatan teknologi dalam mendukung kegiatan produksi.
Pendekatan tersebut menunjukkan bahwa kemampuan petani perlu dibangun secara menyeluruh. Keberhasilan usaha tani tidak hanya ditentukan oleh kemampuan menghasilkan produk, tetapi juga oleh kemampuan mengelola sumber daya, mengambil keputusan, membangun kerja sama, dan mengikuti perkembangan teknologi.
Dalam ekosistem MANNENNUNGENG, proses pembelajaran tersebut diperkuat dengan pengenalan berbagai inovasi. Salah satunya adalah penerapan Alternate Wetting and Drying (AWD) berbasis Internet of Things (IoT) yang mendukung pengelolaan air secara lebih efisien.
Selain teknologi irigasi, inovasi yang dikembangkan juga mencakup pemanfaatan limbah pertanian dan peternakan menjadi pupuk organik dan pakan ternak, penerapan pola tanam Jajar Legowo, introduksi varietas unggul, serta pengendalian hama dengan pendekatan yang lebih ramah lingkungan.
Berbagai inovasi tersebut dapat menjadi bahan pembelajaran nyata bagi masyarakat. P4S tidak hanya menjadi tempat untuk mendengarkan materi, tetapi dapat berkembang sebagai ruang demonstrasi tempat teknologi dipelajari melalui praktik langsung.
Model seperti ini penting dalam proses transfer teknologi. Sebuah inovasi akan lebih mudah diterima ketika masyarakat dapat melihat manfaatnya, memahami cara kerjanya, kemudian mencoba menerapkannya sesuai kebutuhan mereka.
Di sisi lain, penguatan kelembagaan menjadi faktor yang tidak kalah penting. Teknologi dapat berubah dan berkembang, tetapi diperlukan organisasi yang mampu memastikan proses pembelajaran tetap berjalan.
Karena itu, Sikola P4S Lamellong tidak hanya diarahkan untuk meningkatkan keterampilan individu, tetapi juga membangun kapasitas organisasi.
Kelembagaan yang kuat dapat membantu masyarakat mengelola kegiatan secara lebih terarah, membangun jejaring dengan berbagai pihak, membuka peluang kemitraan, serta mempertahankan proses pembelajaran setelah pendampingan berakhir.
Bagi generasi muda, keberadaan ekosistem seperti ini juga dapat membuka cara pandang baru terhadap sektor pertanian. Pertanian tidak lagi semata-mata dipahami sebagai pekerjaan tradisional, tetapi sebagai bidang yang dapat dikembangkan melalui teknologi, inovasi, kewirausahaan, dan pengelolaan berbasis pengetahuan.
Dengan demikian, P4S memiliki fungsi yang lebih luas daripada sekadar pusat pelatihan. P4S dapat menjadi tempat bertemunya pengalaman petani, pengetahuan baru, teknologi, dan generasi penerus. Dari ruang pembelajaran tersebut, proses regenerasi dapat dibangun secara lebih terarah.
Sikola P4S Lamellong menjadi salah satu contoh bahwa penguatan sumber daya manusia dan kelembagaan dapat dilakukan dari tingkat desa.
Ketika pembelajaran, inovasi, dan pendampingan ditempatkan dalam satu ekosistem, masyarakat memiliki peluang lebih besar untuk mengembangkan pertanian yang produktif sekaligus berkelanjutan.
Pada akhirnya, membangun ketahanan pangan berarti juga membangun manusia yang berada di balik proses produksi pangan. Menyiapkan petani masa depan membutuhkan pendidikan yang berkelanjutan, akses terhadap teknologi, kelembagaan yang kuat, serta ruang bagi generasi muda untuk berinovasi.
P4S dapat menjadi salah satu bagian dari jawaban tersebut. Dari desa, pusat pembelajaran seperti P4S dapat berkontribusi dalam menyiapkan generasi pertanian yang tidak hanya mampu mempertahankan produksi, tetapi juga siap membawa sektor pertanian Indonesia menuju era yang lebih modern, adaptif, dan berbasis inovasi.
Daftar Referensi
1. Badan Pusat Statistik. (2023). Sensus Pertanian 2023 (ST2023): Mencatat Pertanian Indonesia. Badan Pusat Statistik Republik Indonesia.
https://sensus.bps.go.id/main/index/st2023
2. Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian. (2025). Draft Rencana Strategis (Renstra) BPPSDMP 2025–2029. Kementerian Pertanian Republik Indonesia.
https://polbangtanyoma.ac.id/wp-content/uploads/2025/09/Draft-Renstra-BPPSDMP-2025-2029.pdf
3. Kementerian Pertanian Republik Indonesia. (2026). Menteri Pertanian: Regenerasi Petani Menjadi Fokus Utama Mewujudkan Swasembada Pangan. Kementerian Pertanian Republik Indonesia.
https://www.pertanian.go.id/?act=view&id=7090&show=news
Haeril