PERMIKOMNAS Soroti Dugaan Kebocoran Data Pribadi Mahasiswa Perguruan Tinggi di Indonesia
Januari 21, 2026
JAKARTA, Foxnesia.com - Dugaan kebocoran data pribadi mahasiswa dari sejumlah perguruan tinggi di Indonesia
kembali mengemuka dan menimbulkan kekhawatiran publik.
Isu ini mencuat setelah seorang pengguna Facebook bernama Matt Murdrock mengunggah temuan yang diklaim
sebagai bukti kebocoran basis data mahasiswa dari belasan universitas.
Dalam unggahannya, ia menampilkan tangkapan layar yang diduga berisi data pribadi mahasiswa, seperti nama lengkap, nomor induk mahasiswa (NIM), alamat surat elektronik, hingga kata sandi akun.
Data tersebut disebut diperjualbelikan di forum gelap atau dark web, memunculkan kekhawatiran terhadap lemahnya sistem keamanan siber di lingkungan kampus.
Data mahasiswa memiliki nilai ekonomi tinggi dan kerap menjadi sasaran kejahatan digital, mulai dari penipuan daring, judi online ilegal, hingga praktik social engineering.
Kondisi ini menempatkan mahasiswa sebagai kelompok rentan dalam ekosistem kejahatan digital
yang terus berkembang.
Kebocoran data di lingkungan perguruan tinggi sejatinya bukan fenomena baru. Proses digitalisasi kampus yang berlangsung cepat kerap tidak dibarengi dengan tanggung jawab perlindungan data yang memadai.
Sistem akademik dibangun untuk efisiensi, namun aspek keamanan dan kedaulatan data mahasiswa sering kali terabaikan.
Universitas seharusnya menjadi ruang aman bagi pengembangan ilmu pengetahuan.
Namun, lemahnya tata kelola keamanan digital justru menjadikan kampus berpotensi sebagai lumbung data yang rentan.
Dalam banyak kasus, respons institusi terhadap kebocoran data masih bersifat defensif dan normatif, dengan fokus utama menjaga reputasi.
Mahasiswa kerap tidak diposisikan sebagai pemilik sah atas data pribadinya. Hak atas transparansi, perlindungan, dan pemulihan akibat kebocoran data belum menjadi perhatian utama, padahal data yang bocor berpotensi disalahgunakan untuk berbagai kejahatan digital jangka panjang.
Isu ini mendapat sorotan dari kalangan mahasiswa. Fadli, Ketua Umum Perhimpunan Mahasiswa Informatika dan Komputer Nasional (PERMIKOMNAS), menilai kebocoran data mahasiswa sebagai persoalan serius dalam tata kelola digital perguruan tinggi.
“Kebocoran data mahasiswa merupakan kegagalan serius dalam tata kelola digital kampus. Mahasiswa adalah pemilik sah atas data pribadinya. Ketika data itu bocor dan kampus tidak memberikan perlindungan serta penjelasan yang transparan, maka yang rusak bukan hanya
sistem, tetapi juga kepercayaan,” ujar Fadli, Rabu (21/01/26).
Menurutnya, respons kampus yang cenderung defensif menunjukkan bahwa keselamatan data mahasiswa belum menjadi prioritas utama.
“Kampus sering kali lebih fokus menjaga
reputasi daripada melindungi mahasiswa sebagai subjek data. Padahal, data yang bocor dapat disalahgunakan untuk penipuan dan kejahatan digital terorganisir,” katanya.
Fadli menegaskan perlunya peran negara dalam memastikan akuntabilitas institusi
pendidikan.
“Ini bukan sekadar isu teknologi, tetapi menyangkut keadilan digital. Tanpa
penegakan hukum dan evaluasi terbuka, kebocoran data akan terus berulang dan
mahasiswa akan selalu menjadi korban,” pungkasnya.
Haeril