Membaca Kesenjangan Pendidikan Antara Kota dan Desa
Januari 27, 2026
OPINI, Foxnesia.com - Pendidikan itu sangat penting, penekanan betapa pentingnya pendidikan itu juga pernah disampaikan oleh seorang tokoh revolusioner berkebangsaan Afrika Selatan, namanya Nelson Mandela, ia mengatakan bahwa pendidikan adalah senjata paling ampuh yang bisa kita gunakan untuk mengubah dunia.
Bagi saya sebagai seorang pelajar, kata-kata itu bukan sekadar motivasi biasa, itu adalah seruan bahwa dengan pendidikan cakrawala berpikir kita bisa dibentuk lebih luas.
Begitu juga sebaliknya, bahwa kebodohan adalah jurang paling nyata yang lebih amat berbahaya.
Pemahaman itu saya ketahui dari beberapa buku yang ada di rumah yang beberapa halaman sempat saya baca.
Misalnya menurut Ali Bin Abi Thalib yang mengatakan bahwa kebodohan adalah akar dari segala keburukan. Seperti diawal penekanannya adalah pendidikan sangat penting.
Meskipun baru beberapa halaman yang sempat saya baca dari beberapa buku yang sebetulnya bukan buku saya secara pribadi, tapi buku dari saudara kandung yang menempuh pendidikan di kota, dari judul buku itu berbeda-beda misalnya buku Eric From tentang “Seni Mencintai” ataupun lainnya. Walaupun itu saya baca jika sedang tidak melakukan sesuatu.
Lebih dari itu, sebagai pelajar yang tinggal di desa pastinya memegang teguh semangat pendidikan itu.
Kami tidak ingin kalah dari mereka yang tinggal di jantung kota dengan serba segalanya dalam mengakses pendidikan.
Artinya, terdapat perbedaan antara pendidikan di kota dan di desa, walaupun sama-sama belajar namun di lain sisi tercipta perbedaan yang menonjol.
Di atas kertas, kurikulum kita berbicara tentang kesetaraan. Namun, di lapangan, realita berbicara tentang nasib yang berbeda.
Sementara seorang pelajar di jantung Jakarta, misalnya bisa menjelajahi dunia melalui layar tablet di kelas yang sejuk, fasilitas lengkap, perpustakaan serba lengkap.
Sementara di desa murid mungkin saja sedang sedang menatap langit-langit sekolah, berharap hujan tidak turun saat mereka mencoba memahami rumus matematika.
Contoh perbedaan lainnya, siswa atau murid di sekolah kota apabila terdapat perubahan kurikulum, tentu mereka yang paling cepat merasakannya, sementara siswa di pedesaan bisa saja butuh waktu perubahan kurikulum pendidikan itu untuk siswa menyesuaikan karena kesenjangan pendidikan.
Di kota, pelajar umumnya punya akses ke fasilitas yang lebih lengkap: sekolah dengan bangunan layak, internet cepat, serta banyak pilihan bimbingan belajar.
Ini menjadi tantangan pemerintah dalam menyediakan pendidikan yang setara bagi semua anak bangsa.
Setelah saya mencari data jumlah penduduk rata-rata di pedesaan yang menyelesaikan pendidikan, cukup mengejutkan, dari data BPS menunjukkan bahwa 31,13% penduduk pedesaan hanya mampu menyelesaikan pendidikan hingga tingkat SD.
Ini bukan karena mereka malas, melainkan karena kesenjangan sosial atau ketidakseimbangan pendidikan.
Saya secara pribadi yang lahir di pelosok atau pedesaan tidak sama sekali menyurutkan semangat belajar, justru semakin bersemangat.
Sebagaimana Presiden Pertama di Republik ini, Soekarno atau Bung Karno menegaskan bahwa Republik ini adalah milik semua dari Sabang sampai Merauke, maka hak untuk mencicipi kualitas pendidikan yang baik tidak boleh dibatasi oleh titik koordinat kelahiran seseorang.
Menurut saya, solusi tidak cukup hanya membangun gedung sekolah. Pemerintah dan masyarakat perlu memastikan pemerataan pendidikan.
Sesuai dengan yang selalu kita dengar dari media sosial bahwa target Indonesia emas 2045: Mewujudkan manusia yang unggul melalui pemerataan kualitas pendidikan.
"Semangat itu terus ada".
Penulis : Suardi
(Siswa MA Muhammadiyah Tengah Lembang, Sinjai Barat)
Tulisan Tanggung Jawab Penuh Penulis