Kisah Inspiratif Perjalanan Organisasi Seorang Pemuda
Januari 05, 2026
GOWA, Foxnesia.com - Sulaeman, lahir pada tanggal 14 Desember 2000, merupakan salah satu figur pemuda yang menunjukkan konsistensi dalam proses pengembangan diri melalui organisasi.
Perjalanan organisasinya mencerminkan bagaimana keterlibatan aktif dalam ruang-ruang sosial dan kemahasiswaan mampu membentuk karakter, kepemimpinan, serta kesadaran tanggung jawab sosial seorang pemuda.
Saat ini, ia dipercaya mengembang amanah sebagai Kepala Bidang Perguruan Tinggi dan Kemahasiswaan (Kabid PTKP) Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Jeneponto, sebuah posisi strategis yang menuntut kapasitas intelektual, kepekaan sosial, dan integritas moral.
Keterlibatan Sulaeman dalam dunia organisasi dimulai sejak tahun 2017, melalui organisasi kepemudaan di tingkat desa, yakni Kerukunan Pemuda Desa Baraya (KPDB).
Organisasi ini menjadi ruang awal bagi dirinya untuk mengenal dinamika sosial masyarakat secara langsung. Alasan utama ia bergabung dalam organisasi tersebut adalah keinginan untuk mengasah daya kritis sebagai pemuda serta melatih kemampuan berbicara di depan khalayak umum.
Melalui KPDB, Sulaeman belajar bahwa pemuda tidak hanya berfungsi sebagai pelengkap dalam struktur sosial, melainkan memiliki peran strategis sebagai agen perubahan di lingkungannya.
Pengalaman berorganisasi di tingkat desa menjadi fondasi penting dalam pembentukan kesadaran sosial Sulaeman.
Ia mulai memahami bahwa kepemimpinan tidak selalu identik dengan jabatan, tetapi lebih pada keberanian mengambil peran, kemampuan bekerja sama, serta kesediaan bertanggung jawab terhadap kepentingan bersama.
Nilai-nilai dasar inilah yang kemudian membawanya untuk melanjutkan proses pembelajaran organisasi ke tingkat yang lebih luas, yakni organisasi kemahasiswaan.
Organisasi yang paling memberikan pengaruh signifikan dalam perjalanan hidup Sulaeman adalah Himpunan Mahasiswa Islam (HMI).
Sebagai organisasi kader yang telah lama berkontribusi dalam sejarah bangsa Indonesia, HMI menjadi ruang pembentukan intelektual, spiritual, dan sosial bagi anggotanya.
Di dalam organisasi ini, Sulaeman tidak hanya bertemu dengan individu-individu yang memiliki latar belakang pemikiran beragam, tetapi juga belajar tentang pentingnya menjaga nilai keislaman, keindonesiaan, dan keilmuan secara seimbang.
Melalui proses kaderisasi dan dinamika organisasi di HMI, Sulaeman mempelajari nilai-nilai dasar seperti kepercayaan, tanggung jawab, dan konsistensi. Nilai-nilai tersebut tidak hanya bersifat normatif, tetapi diuji secara nyata melalui berbagai amanah organisasi yang diembannya.
Kepercayaan yang diberikan kepadanya sebagai Kepala Bidang Perguruan Tinggi dan Kemahasiswaan (PTKP) menjadi salah satu fase penting dalam perjalanan kepemimpinannya.
Dalam posisi tersebut, ia dituntut untuk bersikap proaktif terhadap berbagai isu pendidikan dan kemahasiswaan, khususnya yang berkembang di daerah.
Sebagai Kabid PTKP HMI Cabang Jeneponto, Sulaeman menghadapi tantangan internal dan eksternal organisasi. Salah satu tantangan yang kerap muncul dalam dinamika organisasi adalah rendahnya konsistensi sebagian pengurus dalam menjalankan tugas dan tanggung jawabnya.
Fenomena ini sering disebut sebagai “mayat hidup organisasi”, yakni individu yang secara struktural tercatat sebagai pengurus, tetapi tidak berperan aktif dalam menggerakkan roda organisasi.
Kondisi tersebut menjadi pembelajaran penting bagi Sulaeman bahwa keberlangsungan organisasi sangat ditentukan oleh komitmen personal dan kesadaran kolektif para pengurusnya.
Selain aspek kepemimpinan dan manajerial, HMI juga memberikan kontribusi besar dalam pembentukan nilai-nilai keislaman Sulaeman. Organisasi ini menanamkan pemahaman bahwa ajaran Islam tidak hanya bersifat ritual, tetapi juga harus diwujudkan dalam bentuk tanggung jawab sosial dan kebermanfaatan bagi sesama.
Nilai yang paling kuat tertanam dalam diri Sulaeman selama berproses di organisasi adalah kesadaran untuk menjadi manusia yang bermanfaat, baik dalam lingkup kecil masyarakat maupun dalam konteks yang lebih luas, yakni umat dan bangsa.
Proses berorganisasi turut membekali Sulaeman dengan berbagai keterampilan praktis yang relevan dengan dunia kerja dan pengabdian masyarakat.
Ia mengembangkan kemampuan berdiskusi secara aktif dan argumentatif, keterampilan administrasi persuratan, serta komunikasi publik. Pengalaman tersebut terbukti bermanfaat ketika ia dipercaya menjalankan amanah sebagai sekretaris di tingkat desa.
Dalam peran tersebut, ia mampu menjalankan tugas dengan percaya diri, tidak canggung berbicara di hadapan publik, serta lebih terstruktur dalam mengelola pekerjaan administratif.
Lebih jauh, organisasi telah membentuk soft skill inti dalam diri Sulaeman, seperti kepemimpinan, kerja sama tim, komunikasi efektif, manajemen waktu, dan kemampuan pemecahan masalah.
Interaksi yang beragam di dalam organisasi turut membangun kepercayaan diri, kepekaan sosial, serta mental yang lebih matang dalam menghadapi tekanan dan konflik.
Pengalaman kegagalan yang dialami selama berorganisasi tidak dipandang sebagai hambatan, melainkan sebagai bagian dari proses pembelajaran dan pendewasaan diri.
Dalam kehidupan sehari-hari, nilai-nilai yang diperoleh dari organisasi terus diterapkan oleh Sulaeman, khususnya dalam meningkatkan produktivitas dan memperkaya hubungan interpersonal.
Ia meyakini bahwa tantangan terbesar dalam kehidupan sosial dan organisasi sejatinya terletak pada manusia itu sendiri, terutama dalam hal kesabaran, kepercayaan, dan pengendalian emosi.
Oleh karena itu, kemampuan mengelola diri dan bersikap bijak dalam menghadapi perbedaan menjadi aspek penting dalam menjaga keberlanjutan kerja kolektif.
Pemikiran dan sikap Sulaeman sejalan dengan gagasan Tan Malaka, yang menegaskan bahwa kaum muda terpelajar tidak boleh merasa terlalu tinggi untuk melebur dengan masyarakat dan melakukan kerja nyata demi memenuhi kebutuhan sosial.
Pendidikan, menurut pandangan tersebut, hanya memiliki makna apabila mampu melahirkan manusia yang berkontribusi secara konkret bagi masyarakat dan negara.
Bagi Sulaeman, pengabdian sosial merupakan konsekuensi logis dari proses pendidikan dan kaderisasi yang dijalaninya.
Ke depan, Sulaeman memiliki komitmen untuk terus melakukan kerja-kerja positif serta berkontribusi dalam perbaikan sistem sosial dan kemasyarakatan, dimulai dari lingkup yang paling dekat.
Dengan prinsip ikhtiar dan rasa syukur, ia meyakini bahwa perubahan, sekecil apa pun, harus diawali dari kesadaran dan tindakan nyata.
Pada akhirnya, perjalanan organisasi Sulaeman menunjukkan bahwa proses berorganisasi bukan sekadar aktivitas tambahan dalam kehidupan mahasiswa, melainkan sarana strategis dalam pembentukan karakter, kepemimpinan, dan tanggung jawab sosial.
Kisah ini menjadi refleksi bahwa sebaik-baiknya manusia adalah mereka yang mampu memberikan manfaat dan kebermanfaatan bagi umat dan bangsa.
Penulis : St. Mardiah Rezky Andini