FOXLINE NEWS
Mode Gelap
Artikel teks besar

Di Balik Kostum Cosplay : Eksplorasi Budaya dan Kreativitas Fashion Jepang di Makassar


MAKASSAR, Foxnesia.com - Suara musik khas anime dan teriakan riang pengunjung memecah suasana akhir pekan di Plaza HLL, Mall Ratu Indah Makassar, Minggu 16 November 2025. 

Di tengah kerumunan, para anak muda berjalan dengan penuh percaya diri. Ada yang mengenakan wig merah menyala, kostum armor yang mengkilap, hingga gaun idol berpayet gemerlap. 

Setiap langkah mereka seolah menghadirkan karakter fantasi ke dunia nyata. Di sinilah cosplay menemukan panggungnya: ruang ekspresi visual yang tumbuh menjadi bagian dari budaya kreatif anak muda Makassar.

Cosplay yang berasal dari gabungan kata costume dan play telah berkembang lebih jauh daripada sekadar hobi menirukan tokoh anime, manga, atau game. 

Mode, seni rias, crafting, hingga storytelling bertemu dalam satu tubuh. Para cosplayer ini tak hanya memakai kostum; mereka merayakan karakter yang memberi mereka rasa percaya diri dan kebahagiaan.

Secara historis, praktik mengenakan kostum karakter fiksi telah muncul sejak awal abad ke-20. 

Namun istilah cosplay pertama kali diperkenalkan oleh jurnalis Jepang, Nobuyuki Takahashi, pada awal 1980-an setelah ia menghadiri ajang World Science Fiction Convention di Amerika Serikat. 

Takahashi mengadaptasi konsep costume play budaya mengenakan kostum karakter fiksi yang populer di Barat ke dalam konteks budaya pop Jepang. 

Sejak saat itu, cosplay berkembang pesat seiring meningkatnya popularitas anime, manga, dan gim, hingga akhirnya menjadi subkultur global yang menyatukan seni, mode, dan performativitas.

Kecintaan pada karakter fiksi menjadi pintu masuk banyak cosplayer. Rayyan (21), misalnya, mulai terjun ke dunia cosplay sejak pandemi. 

Awalnya hanya menonton anime di rumah dan melihat foto-foto cosplayer di media sosial.

“Saya lihat orang-orang bisa tampil percaya diri sebagai karakter favorit mereka. Dari situ saya penasaran dan akhirnya ikut. Ternyata seru sekali,” ceritanya.

Namun perjalanan menjadi cosplayer tidak selalu mudah. Tantangan terbesar adalah biaya.

“Kalau mau detail, pasti butuh biaya. Jadi saya nabung. Ada bagian yang saya pesan, ada juga yang saya modifikasi sendiri biar lebih cocok sama karakter,” tambahnya.

Ketelitian dan kecocokan karakter menjadi fokus utama. Dari gaya rambut, aksesoris, hingga pose, semuanya harus tepat agar penonton langsung mengenali siapa yang mereka perankan. 

Titik kepuasan cosplayer adalah saat ada pengunjung yang meminta foto sebagai bentuk apresiasi atas usaha mereka. Meski sangat terpengaruh budaya Jepang, Rayyan menegaskan bahwa cosplayer tetap menyesuaikan diri dengan nilai lokal.

“Kita tetap jadi diri sendiri. Jepang jadi inspirasi, bukan untuk meniru mentah-mentah," ucapnya.

Di balik tampilan memukau para cosplayer, ada komunitas yang menjadi penyokong perkembangan kultur ini. Salah satunya adalah VOC (Vendor Organization Cosplay), wadah yang mempertemukan cosplayer dengan penyelenggara event di Makassar.

Fai, salah satu pengelola VOC, menyampaikan bahwa minat terhadap cosplay terus meningkat setelah pandemi.

“Hampir setiap bulan ada empat sampai enam event yang bekerjasama dengan kami. Pesertanya juga makin banyak, dan selalu ada wajah baru,” tuturnya.

Ia bangga melihat banyak cosplayer berkembang pesat, mulai dari yang memanfaatkan kardus dan lem, kini sudah mampu membuat armor yang menyerupai karakter aslinya.

“Cosplay bukan cuma soal pakaian, tapi tentang kreativitas dan keberanian untuk tampil,” tambahnya.

VOC juga sering menjadi “mentor” informal bagi pemula untuk menjelaskan jenis bahan kostum, referensi karakter, hingga tips perform saat naik panggung.

Event seperti ini membuka ruang sosial baru bagi anak muda. Sebuah ruang yang aman untuk mengekspresikan mimpi dan versi diri yang selama ini hanya hidup dalam dunia animasi.

Dari perspektif pendidikan fashion, cosplay memiliki nilai estetika dan akademik yang kuat. 

Luthfiani Jusuf, S.Pd., M.Pd., dosen Tata Busana Universitas Negeri Makassar, menegaskan bahwa cosplay adalah bagian penuh dari dunia fashion.

“Fashion itu menyangkut total look: pakaian, makeup, hingga hairdo. Cosplay adalah ekspresi diri yang diwujudkan melalui karakter yang mereka kagumi,” jelasnya.

Luthfiani melihat peluang besar bagi Makassar untuk mengembangkan industri kreatif berbasis cosplay. Salah satunya dengan mengangkat elemen budaya lokal.

“Motif kain tradisional Sulawesi Selatan seperti Lipa’ Sabbe atau Baju Bodo bisa dikreasikan dalam kostum karakter Jepang. Ini akan menjadi identitas visual yang unik dan kuat,” ungkapnya.

Menurutnya, kombinasi budaya Jepang dan kearifan lokal bisa menjadikan Makassar berbeda dari kota lain dalam skena cosplay nasional.

“Cosplay bisa menjadi sarana pelestarian budaya, asalkan kita berani menyisipkan ciri khas daerah dalam setiap karya,” tambahnya.

Hae
Tutup Iklan
Hubungi Kami untuk Beriklan