Bantah Tuduhan LP-KPK, Kepala Desa Nao : Program Jagung Bejo Dongkrak Produktivitas dan Kesejahteraan Petani
April 23, 2025
MANGGARAI, Foxnesia.com - Polemik terkait program pertanian jagung Bejo mencuat setelah Lembaga Pengawal Kebijakan Pemerintah dan Keadilan (LP-KPK) menerima laporan dugaan kerugian petani akibat program tersebut.
Namun, Kepala Desa Nao, Kecamatan Satarmese Utara, Kabupaten Manggarai, secara terbuka membantah tuduhan tersebut dan menyebut laporan itu tidak berdasar.
Dalam keterangannya kepada media, Kepala Desa menegaskan bahwa program jagung Bejo justru membawa dampak positif bagi petani di wilayahnya.
Menurutnya, tuduhan kerugian panen merupakan bentuk miskomunikasi yang tidak mencerminkan realitas di lapangan.
"Kami menyayangkan laporan tersebut. Faktanya, banyak petani justru tersenyum puas karena hasil panen meningkat. Bibit jagung Bejo ini berkualitas, cepat tumbuh, dan tahan penyakit," ujar Kepala Desa, Rabu (23/04/25).
Berdasarkan data Pemerintah Desa Nao selama dua musim tanam terakhir, sekitar 70 persen petani pengguna bibit jagung Bejo mengalami peningkatan hasil panen sebesar 30–50 persen dibanding musim sebelumnya.
Beberapa kelompok tani bahkan mencatat panen hingga beberapa ton per hektare, meningkat signifikan dari rata-rata sebelumnya.
Hal itu disampaikan oleh Seorang petani yang enggan disebut namanya mengaku puas dengan hasil panen.
"Awalnya kami ragu, tapi setelah panen pertama, hasilnya memuaskan. Jagungnya besar, padat, dan cepat panen. Kami sepakat lanjut musim depan," katanya.
Program jagung Bejo tidak hanya mencakup distribusi bibit unggul, tetapi juga pelatihan budidaya modern serta pendampingan teknis.
Pemerintah Desa Nao menggandeng Dinas Pertanian Kabupaten Manggarai dan lembaga pendamping pertanian untuk memastikan petani menerima dukungan menyeluruh.
"Kami tidak lepas tangan. Semua proses mulai dari tanam, perawatan, hingga panen kami dampingi," tegas Kepala Desa.
Menanggapi laporan ke LP-KPK, Kepala Desa menegaskan bahwa hingga kini belum ada pengaduan resmi dari masyarakat terkait kerugian atau kegagalan panen.
Ia menduga laporan tersebut berasal dari pihak yang tidak mengikuti program secara langsung atau hanya menerima informasi sepihak.
Menutup pernyataannya, Kepala Desa berharap program jagung Bejo dapat menjadi percontohan bagi desa-desa lain di Manggarai dalam meningkatkan hasil pertanian secara mandiri dan berkelanjutan.
"Kalau petani sejahtera, desa pun kuat. Itu prinsip kami," pungkasnya.
Sebelumnya Ketua LP KPK Manggarai, dalam keterangannya, menegaskan bahwa masyarakat Desa Nao telah menjadi korban kelalaian pemerintah.
"Mereka kecewa karena pemerintah lebih banyak berkelit daripada bertindak. Kami menuntut ganti rugi dan penjelasan resmi mengapa bibit kedaluwarsa ini sampai didistribusikan," tegasnya.
Investigasi LP KPK mengungkap bahwa bibit jagung merek Adv Bejo yang dibagikan ternyata telah melewati masa berlaku, sehingga pertumbuhannya tidak maksimal. Akibatnya, hasil panen jauh di bawah ekspektasi, bahkan sebagian lahan gagal total. Padahal, jagung merupakan komoditas utama penghidupan warga Desa Nao.
"Jika tidak ada solusi, kami akan eskalasi ke tingkat pusat," ancam Ketua LP KPK, menyiratkan ketidakpuasan atas respons pemerintah setempat yang dinilai lamban dan tidak serius.
Laporan : Nobertus Patut S.Pd
Editor : Haeril