FOXLINE NEWS
Mode Gelap
Artikel teks besar

KPID Sulsel Bersama Kohati Badko Sulsel Gelar Dialog Ancaman Kekerasan Digital dan Penyiaran


MAKASSAR, Foxnesia.com - Korps HMI Wati (Kohati) Badan Koordinasi (Badko) Sulawesi Selatan dan Komisi Penyiaran Indonesia Daerah (KPID) Sulawesi Selatan berkolaborasi menggelar Dialog Literasi Digital.

Mengangkat tema “GOES TO CAMPUS: Kesadaran Terhadap Perempuan Atas Ancaman Kekerasan Digital dan Penyiaran” Kegiatan n dilaksanakan di aula Gedung D Kampus Mega Rezky, Kamis (9/7/26).

Dialog tersebut menghadirkan sejumlah narasumber dengan berbagai latar belakang yang berbeda, di antaranya Kepala UPT PPA Sulawesi Selatan (Yessy Yoanna Ariestiani, M.AP.) membahas tentang perlindungan dan pencegahan perempuan di ruang digital, perwakilan dari KPID Sulawesi Selatan (Poppy Trisnawati, M.M.) dari perpektif kekerasan penyiaran , dan Pak Dr. Syamsunie Carsel, M.Pd. sebagai akademisi Universitas Mega Rezky Makassar membahas teknologi dan perempuan.

Acara diawali pembukaan langsung oleh Ketua Yayasan Mega Rezky selaku tuan rumah, ia menyampaikan apresiasi dan terima kasih atas kegiatan tersebut di tempatkan di Kampus Mega Rezky.

“Saya senang sekali dan berterima kasih kegiatan ini terjadi di kampus Mega Rezky karena memang pada dasarnya perempuan masih rentan menjadi korban kekerasan baik di dunia kampus maupun di sosial media," ungkapnya.

Ketua KPID Sulsel yakni Dr. Irwan Ade Saputra, M. SI. menyampaikan diadakannya kegiatan tersebut untuk mencegah  kekerasan terhadap perempuan khususnya pelecehan online.

“Perempuan sering menjadi objek seksual dalam dunia penyiaran, di dunia televisi dan radio masih banyak terjadi kekerasan terhadap perempuan seperti pelecehan online, hingga penting untuk dipahami melalui kegiatan literasi digital ini yang merupakan program dari KPID itu sendiri," jelasnya.

Sementara itu, Ketua Umum Kohati Badko Sulsel, Ita Rosita, M.Hum mengungkapkan harapannya pada akhir penutup dialog.

“Semoga kegiatan ini bermanfaat bagi kita semua khususnya peserta. Dialog ini bukan seremoni, mari kita jadikan sebagai titik awal gerakan sadar akan Perlindungan dan ancamannya. Sebab perempuan berhak aman dan berkarya tanpa rasa takut," ucapnya.

Diketahui, kegiatan ini dilaksanakan sebagai respon terhadap maraknya kekerasan digital atau KBGO (Kekerasan Berbasis Gender Online) di lingkup mahasiswa. 

Wiwi