Hoaks, AI dan Media Sosial : Tantangan Baru Pendidikan Pancasila di Era Digital
Juli 25, 2026
OPINI, Foxnesia.com - Di era digital, informasi bergerak jauh lebih cepat dibandingkan kemampuan manusia untuk memverifikasinya.
Hanya dalam hitungan detik, sebuah berita dapat menyebar ke jutaan pengguna media sosial. Sayangnya, kemudahan ini tidak selalu membawa dampak positif.
Hoaks masih menjadi persoalan serius, sementara perkembangan Artificial Intelligence (AI) semakin memudahkan pembuatan teks, gambar, hingga video yang tampak meyakinkan.
Jika tidak diimbangi dengan literasi digital yang baik, masyarakat berisiko mempercayai informasi yang keliru.
Fenomena ini menjadi tantangan besar bagi dunia pendidikan, khususnya Pendidikan Pancasila. Selama ini, Pendidikan Pancasila sering dipahami sebagai mata pelajaran yang hanya membahas nilai-nilai dasar negara.
Padahal, esensinya jauh lebih luas, yaitu membentuk warga negara yang berpikir kritis, berkarakter, bertanggung jawab, dan mampu mengambil keputusan berdasarkan nilai kemanusiaan serta kepentingan bersama.
Kemajuan AI memberikan banyak manfaat bagi dunia pendidikan. Siswa dapat memperoleh penjelasan materi dengan cepat, guru terbantu dalam menyusun media pembelajaran, dan proses belajar menjadi lebih interaktif.
Namun, di sisi lain, AI juga dapat dimanfaatkan untuk menghasilkan informasi palsu, menyebarkan gambar hasil manipulasi, hingga membuat video deepfake yang sulit dibedakan dari kenyataan.
Ketika teknologi digunakan tanpa etika, dampaknya tidak hanya merugikan individu, tetapi juga dapat memecah persatuan masyarakat.
Media sosial memperparah kondisi tersebut karena algoritmanya cenderung menampilkan konten yang menarik perhatian, bukan selalu yang paling benar.
Tidak sedikit pengguna yang langsung membagikan informasi tanpa memeriksa sumbernya terlebih dahulu. Akibatnya, hoaks dapat menyebar lebih cepat dibandingkan klarifikasinya.
Kondisi ini menunjukkan bahwa kemampuan menggunakan teknologi saja tidak cukup. Masyarakat juga membutuhkan kemampuan berpikir kritis dan kesadaran moral.
Di sinilah Pendidikan Pancasila memiliki peran yang sangat penting. Nilai-nilai Pancasila dapat menjadi pedoman dalam menghadapi tantangan digital. Sila pertama mengajarkan kejujuran dan tanggung jawab moral dalam menggunakan teknologi.
Sila kedua mengingatkan pentingnya menghormati martabat manusia dengan tidak menyebarkan fitnah maupun ujaran kebencian. Sila ketiga menanamkan semangat persatuan sehingga masyarakat tidak mudah terprovokasi oleh informasi yang memecah belah.
Sila keempat mendorong pengambilan keputusan berdasarkan musyawarah dan pertimbangan yang rasional, sedangkan sila kelima mengajarkan keadilan dalam memanfaatkan teknologi untuk kepentingan bersama.
Pendidikan Pancasila juga perlu beradaptasi dengan perkembangan zaman. Pembelajaran tidak lagi cukup berfokus pada hafalan nilai atau pasal, tetapi harus memberikan pengalaman nyata kepada peserta didik.
Guru dapat mengajak siswa menganalisis berita viral, membandingkan informasi dari berbagai sumber, mengenali ciri-ciri hoaks, hingga mendiskusikan etika penggunaan AI dalam kehidupan sehari-hari.
Dengan cara tersebut, siswa tidak hanya memahami teori, tetapi juga mampu menerapkannya dalam kehidupan digital.
Sebagai calon guru sekolah dasar, tantangan ini perlu menjadi perhatian sejak dini. Anak-anak saat ini telah akrab dengan internet dan media sosial sejak usia yang sangat muda.
Mereka membutuhkan pendampingan agar mampu menggunakan teknologi secara bijaksana. Guru tidak hanya berperan sebagai penyampai materi, tetapi juga sebagai teladan dalam menunjukkan bagaimana memanfaatkan teknologi secara bertanggung jawab.
Pembelajaran yang mengintegrasikan literasi digital dengan nilai-nilai Pancasila dapat membantu membentuk generasi yang cerdas sekaligus berkarakter.
Namun demikian, penting untuk tidak menyimpulkan bahwa AI atau media sosial adalah penyebab utama menurunnya karakter generasi muda. Anggapan tersebut terlalu sederhana.
AI hanyalah alat, sedangkan dampaknya sangat bergantung pada cara manusia menggunakannya. Faktor keluarga, lingkungan sekolah, budaya digital, dan kebijakan publik juga berpengaruh terhadap pembentukan karakter.
Oleh karena itu, solusi yang dibutuhkan bukan menolak perkembangan teknologi, melainkan meningkatkan kemampuan masyarakat untuk menggunakannya secara etis dan bertanggung jawab.
Pada akhirnya, tantangan terbesar di era digital bukanlah kehadiran AI atau derasnya arus informasi, melainkan kemampuan manusia dalam menggunakan teknologi dengan bijaksana.
Pendidikan Pancasila harus hadir sebagai fondasi moral yang membimbing masyarakat agar tidak mudah terpengaruh hoaks, mampu berpikir kritis, serta menjunjung tinggi nilai kemanusiaan dan persatuan.
Dengan demikian, kemajuan teknologi dapat menjadi sarana untuk membangun bangsa, bukan justru menjadi ancaman bagi kehidupan berbangsa dan bernegara.
Penulis : Audya Haziqah
(Mahasiswi Universitas Negeri Makassar)
Tulisan Tanggung Jawab Penuh Penulis