FOXLINE NEWS
Mode Gelap
Artikel teks besar

Generasi Z Butuh Pendidikan Pancasila yang Nyata

Gambar 1. Ilustrasi peran Pendidikan Pancasila dalam membentuk karakter Generasi Z yang berlandaskan nilai-nilai Pancasila.


OPINI, Foxnesia.com - Di tengah pesatnya perkembangan teknologi, Generasi Z tumbuh dalam lingkungan yang berbeda dibandingkan generasi sebelumnya. Internet, media sosial, dan kecerdasan buatan telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. 

Di balik berbagai kemudahan tersebut, muncul tantangan baru seperti penyebaran hoaks, perundungan siber, ujaran kebencian, hingga lunturnya rasa saling menghormati. 

Kondisi ini menunjukkan bahwa Generasi Z membutuhkan Pendidikan Pancasila yang tidak hanya diajarkan di ruang kelas, tetapi juga diwujudkan dalam kehidupan nyata.

Selama ini, Pendidikan Pancasila masih sering dipahami sebagai mata pelajaran yang berisi hafalan mengenai lima sila, sejarah perumusannya, dan berbagai aturan kenegaraan. 

Padahal, tujuan utama pendidikan ini jauh lebih luas, yaitu membentuk karakter peserta didik agar mampu menjadi warga negara yang bertanggung jawab, toleran, serta memiliki kepedulian terhadap sesama. 

Nilai-nilai tersebut menjadi semakin penting di era digital ketika informasi dapat menyebar dalam hitungan detik tanpa selalu disertai kebenaran.

Generasi Z merupakan kelompok yang paling aktif menggunakan teknologi. Mereka memiliki kemampuan beradaptasi dengan perkembangan digital, tetapi juga menghadapi berbagai risiko. 

Tidak sedikit remaja yang terjebak dalam budaya saling menghina di media sosial demi mengejar popularitas. Fenomena ini memperlihatkan bahwa kecerdasan teknologi belum tentu diiringi dengan kecerdasan moral. 

Oleh karena itu, Pendidikan Pancasila harus hadir sebagai fondasi karakter yang mampu membimbing generasi muda dalam menggunakan teknologi secara bijaksana.

Gambar 2. Ilustrasi penggunaan teknologi oleh Generasi Z yang menunjukkan pentingnya Pendidikan Pancasila dalam membentuk karakter agar bijak, bertanggung jawab, dan beretika dalam bermedia sosial.



Write on Medium

Penerapan nilai-nilai Pancasila dapat dimulai dari tindakan sederhana. Sila pertama mengajarkan pentingnya menghormati perbedaan keyakinan. Sila kedua mengingatkan agar setiap orang memperlakukan sesama dengan adil dan beradab, termasuk ketika berinteraksi di media sosial. 

Sila ketiga mendorong semangat persatuan di tengah keberagaman suku, agama, dan budaya. Sila keempat mengajarkan pentingnya berdiskusi dan menghargai pendapat orang lain, sedangkan sila kelima menanamkan kepedulian terhadap keadilan sosial dalam kehidupan bermasyarakat.

Sekolah memiliki peran strategis untuk menghadirkan pembelajaran yang lebih relevan dengan kehidupan peserta didik. Guru dapat mengajak siswa membahas isu-isu aktual, seperti penyebaran hoaks, etika bermedia sosial, toleransi, dan kepedulian terhadap lingkungan. 

Melalui diskusi, proyek sosial, dan kegiatan gotong royong, peserta didik tidak hanya memahami konsep Pancasila, tetapi juga merasakan manfaat penerapannya dalam kehidupan sehari-hari.

Namun, tanggung jawab membangun karakter tidak hanya berada di tangan sekolah. Keluarga menjadi lingkungan pertama yang membentuk kebiasaan anak. 

Orang tua yang memberikan teladan berupa kejujuran, kedisiplinan, kepedulian, dan sikap saling menghargai akan membantu anak memahami bahwa nilai-nilai Pancasila bukan sekadar teori, melainkan pedoman hidup yang harus dipraktikkan.

Penelitian Gultom et. al., (2024) menyoroti implementasi nilai-nilai Pancasila dalam membentuk perilaku positif di kalangan siswa disalah satu sekolah. 

Namun, masih ada resistensi dari sebagian responden terhadap perlindungan tersebut sebelum mereka diberikan pemahaman yang memadai. 

Pendidikan Pancasila juga perlu menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman. Pendekatan pembelajaran yang monoton akan sulit menarik perhatian Generasi Z. 

Sebaliknya, penggunaan media digital, simulasi kasus, diskusi interaktif, hingga pemanfaatan teknologi dapat menjadikan pembelajaran lebih menarik tanpa mengurangi substansi nilai-nilai kebangsaan.

Di tengah derasnya arus globalisasi, Indonesia membutuhkan generasi yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga memiliki karakter yang kuat. 

Kemajuan teknologi akan kehilangan makna apabila tidak diimbangi dengan nilai kemanusiaan, persatuan, dan tanggung jawab sosial. 

Pendidikan Pancasila menjadi salah satu kunci untuk menjaga identitas bangsa sekaligus mempersiapkan Generasi Z menghadapi tantangan masa depan.

Pelajar Indonesia sudah sepantasnya mencerminkan profil pelajar yang mencerminkan karakter Pancasila, cerdas dalam intelektual dan berkarakter mulia sesuaI dengan nilai-nilai pada Pancasila (Aningsih, 2022; Maisyaroh, 2023; Subaidi, 2020; Trisiana 2019). 

Namun, tidak jarang dijumpai pelajar Indonesia yang tidak mencerminkan karakter yang sesuai dengan nilai-nilai Pancasila. 

Pancasila saat ini diterapkan hanya sebagai formalitas negara, sebagai simbol negara, tanpa memuat Pancasila dalam hati dan jiwa masyarakat Indonesia (Achadi, 2020; Koutsoklenis, 2021; Liu, 2020; Lusia, 2023).

Pada akhirnya, keberhasilan Pendidikan Pancasila tidak diukur dari kemampuan siswa menghafal isi lima sila, melainkan dari bagaimana mereka bersikap dalam kehidupan nyata. 

Ketika Generasi Z mampu menggunakan media sosial secara bijaksana, menghargai keberagaman, berani menolak hoaks, peduli terhadap lingkungan, dan mengutamakan kepentingan bersama, saat itulah Pendidikan Pancasila benar-benar hidup. 

Di era digital yang terus berubah, Indonesia membutuhkan generasi yang bukan hanya melek teknologi, tetapi juga memiliki karakter Pancasila yang kuat sebagai bekal membangun masa depan bangsa.

Penulis : Andi Rahmat Bangsawan
(Mahasiswa Universitas Negeri Makassar)

Tulisan Tanggung Jawab Penuh Penulis