Tragedi Rana Mese Bongkar Buruknya Sistem Keamanan Wisata Manggarai Timur
Mei 10, 2026
Manggarai Timur, Foxnesia.com - Tragedi meninggalnya seorang anak di kawasan wisata Danau Rana Mese, Kabupaten Manggarai Timur, memicu gelombang keprihatinan publik sekaligus kritik keras terhadap tata kelola kawasan wisata tersebut.
Peristiwa tragis tersebut memicu kritik tajam dari Aktivis GMNI, Ferdinando Saferi, yang juga merupakan Pengurus DPP GMNI Bidang Pertanian dan Perikanan. Ia menegaskan bahwa tragedi itu harus menjadi momentum evaluasi besar-besaran terhadap seluruh sistem pengelolaan wisata di Manggarai Timur.
Menurut Ferdinando, pemerintah tidak boleh sekadar menganggap kejadian tersebut sebagai insiden biasa tanpa langkah pembenahan yang serius.
“Tragedi ini membuka mata publik bahwa pengelolaan kawasan wisata kita masih sangat lemah, terutama dalam aspek keselamatan pengunjung. Negara tidak boleh hanya hadir ketika menarik retribusi, tetapi hilang ketika keselamatan masyarakat dipertaruhkan,” tegas Ferdinando, Minggu (10/05/2026).
Ia menilai selama ini petugas di lapangan lebih terlihat aktif dalam urusan penagihan tiket masuk dibanding menjalankan fungsi pengawasan dan perlindungan terhadap wisatawan. Bahkan, menurutnya, ketegasan petugas sering kali hanya tampak ketika pengunjung belum membayar retribusi.
“Pengunjung dilarang masuk kalau belum bayar tiket, tetapi ketika terjadi situasi berbahaya, pengawasan justru tidak maksimal. Ini menunjukkan adanya ketimpangan prioritas dalam pengelolaan wisata,” lanjutnya.
GMNI juga menyoroti minimnya fasilitas keselamatan di kawasan Danau Rana Mese. Hingga kini, publik mempertanyakan apakah kawasan wisata tersebut telah dilengkapi dengan petugas penyelamat, rambu-rambu peringatan bahaya, alat evakuasi darurat, hingga prosedur penanganan keadaan darurat yang jelas dan terukur.
Menurut Ferdinando, lemahnya standar keamanan menunjukkan bahwa pengelolaan wisata masih berorientasi pada Pendapatan Asli Daerah (PAD) semata tanpa dibarengi tanggung jawab perlindungan terhadap pengunjung.
“Pariwisata tidak boleh dibangun di atas kelalaian. Jangan sampai kawasan wisata hanya dijadikan tempat pungutan retribusi, sementara aspek keselamatan masyarakat diabaikan,” katanya.
Atas dasar itu, GMNI mendesak Bupati Manggarai Timur dan Kepala BKSDA segera melakukan evaluasi total terhadap kinerja pegawai Taman Wisata Alam (TWA) Ruteng dan Dinas Pariwisata Kabupaten Manggarai Timur. Evaluasi tersebut dinilai penting untuk memastikan seluruh petugas benar-benar menjalankan tugas pelayanan, pengawasan, dan perlindungan publik secara profesional.
Selain evaluasi personel, pemerintah juga diminta segera melakukan audit menyeluruh terhadap Standar Operasional Prosedur (SOP) keamanan di kawasan Danau Rana Mese. Audit tersebut harus mencakup sistem pengawasan kawasan danau, kesiapan petugas lapangan, fasilitas keselamatan, hingga mekanisme penanganan korban apabila terjadi keadaan darurat.
GMNI turut mendesak Pemerintah Kabupaten Manggarai Timur agar segera turun tangan memberikan santunan dan pendampingan kepada keluarga korban sebagai bentuk tanggung jawab moral dan kehadiran negara di tengah duka masyarakat.
Ferdinando menyampaikan bahwa tragedi ini harus menjadi titik balik bagi pemerintah daerah untuk melakukan pembenahan serius terhadap tata kelola pariwisata di Manggarai Timur. Ia menilai keselamatan pengunjung harus menjadi prioritas utama, bukan sekadar mengejar target pendapatan daerah.
“Nyawa manusia jauh lebih berharga daripada tiket masuk. Pemerintah harus berhenti menjadikan keselamatan publik sebagai urusan sampingan. Tragedi Danau Rana Mese harus menjadi peringatan keras bahwa kelalaian dalam pengelolaan wisata bisa merenggut nyawa,” tutupnya.
Diketahui Anak yang tenggelam di Danau Rana Mese diketahui bernama Greis (12), seorang siswa sekolah dasar. Korban sebelumnya dilaporkan tenggelam saat bermain di kawasan danau pada Senin, 4 Mei 2026. Setelah dilakukan proses pencarian selama tiga hari, korban akhirnya ditemukan dalam kondisi meninggal dunia pada Rabu, 6 Mei 2026 sekitar pukul 13.50 WITA.
Nobertus Patut