FOXLINE NEWS
Mode Gelap
Artikel teks besar

Miris, Di Seram Bagian Barat Nyawa Warga Masih Dipertaruhkan di Jalan Setapak


MALUKU, Foxnesia.com — Di tengah sunyinya pegunungan Taniwel, Kabupaten Seram Bagian Barat, sebuah pemandangan memilukan kembali memperlihatkan betapa beratnya hidup masyarakat di daerah terpencil.

Seorang perempuan lanjut usia bernama Balandina Tibalimeten (70), warga Desa Lohia Sapalewa, Kecamatan Taniwel, terpaksa ditandu oleh warga menggunakan kain dan sebatang bambu karena tidak adanya akses jalan yang layak menuju desa mereka, Rabu (20/5/2026).

Balandina yang sedang sakit harus dibawa keluar dari desa dengan cara yang sangat sederhana. Tubuh renta itu dibaringkan di atas tandu darurat, sementara sejumlah warga bergantian memikulnya menyusuri jalan setapak yang sempit, licin, dan menanjak.

Tak ada suara sirene ambulans. Tak ada jalan aspal. Yang ada hanya semangat gotong royong warga desa yang berusaha menyelamatkan nyawa sesama.

Perjalanan menuju jalan raya memakan jarak sekitar empat kilometer. Warga harus menembus semak belukar, rumput liar, serta medan terjal pegunungan agar Balandina bisa dijemput kendaraan dan dibawa ke puskesmas terdekat di wilayah Pegunungan Taniwel.

“Kalau ada warga yang sakit, beginilah cara kami menolong. Kami pikul dengan bambu dan kain. Tidak ada jalan, tidak ada ambulans, bahkan tenaga kesehatan pun tidak ada di desa,” ungkap salah satu warga dengan nada sedih.

Kondisi seperti ini bukan peristiwa baru. Warga Desa Lohia Sapalewa sudah bertahun-tahun hidup dalam keterisolasian. Ketika ada yang sakit, ibu hamil hendak melahirkan, atau anak-anak membutuhkan pengobatan, mereka harus mempertaruhkan waktu dan tenaga demi mendapatkan pelayanan kesehatan.

Ironisnya, hingga kini belum ada tenaga kesehatan yang menetap di desa tersebut. Tidak tersedia polindes, tidak ada puskesmas pembantu, dan akses jalan yang memadai pun belum terwujud.

Padahal Desa Lohia Sapalewa termasuk kawasan pedalaman Pulau Seram yang masuk kategori daerah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T).

Kondisi ini menjadi potret nyata ketimpangan pembangunan yang masih dirasakan masyarakat di pelosok negeri. Di saat sebagian wilayah telah menikmati fasilitas kesehatan modern, warga di pedalaman Taniwel masih harus mengandalkan bahu manusia untuk membawa orang sakit menuju pertolongan.

Warga berharap Pemerintah Kabupaten Seram Bagian Barat, Pemerintah Provinsi Maluku, hingga pemerintah pusat tidak lagi menutup mata terhadap penderitaan mereka.

Mereka mendesak agar akses jalan menuju Desa Lohia Sapalewa segera dibangun, tenaga kesehatan ditempatkan secara permanen, dan polindes didirikan agar masyarakat tidak terus-menerus berjuang sendiri saat nyawa dipertaruhkan.

“Jangan tunggu ada yang meninggal di jalan baru pemerintah datang. Kami juga warga negara yang berhak mendapat pelayanan kesehatan dan akses jalan yang layak,” kata seorang warga.

Laporan dari pedalaman Taniwel ini menjadi pengingat bahwa di balik megahnya pembangunan di perkotaan, masih ada masyarakat yang harus menggotong harapan hidup dengan sepotong kain dan sebatang bambu.

Alwi