Krisis Iklim Makin Terasa, Perubahan Cuaca Ancam Kehidupan Masyarakat Pesisir Kabupaten Takalar Sulsel
Januari 23, 2026
TAKALAR, Foxnesia.com - Pagi itu laut di pesisir Takalar tampak tenang. Langit cerah, angin berembus pelan, seolah memberi isyarat aman untuk melaut.
Namun bagi Daeng Nga’go, nelayan berusia 54 tahun, ketenangan seperti itu tidak lagi bisa dipercaya. Pagi kelihatan bagus, tapi sore bisa tiba-tiba angin besar dan ombak tinggi.
“Punnah baribasa kacinikang bajikji, tapi tiba-tibai karuengna battui anging lompoa, siagang bombanga tinggi. Riolo sannak di issengna musingna anginga, kana bulang sekre na bulang rua pi na musingna anging baraka. Tapi anneh rikamma-kammaya anneh intaki battu musing baraka, tenapa na antamak bulang sampulo anrua tammarimi bosi,” katanya dalam bahasa Makassar.
Dalam beberapa tahun terakhir, laut yang dulu dapat dibaca kini berubah menjadi ruang penuh ketidakpastian.
Selama lebih dari tiga dekade melaut, Daeng Nga’go terbiasa membaca arah angin dan perubahan musim. Dulu, tanda-tanda alam menjadi penentu utama kapan harus turun ke laut dan kapan harus bertahan di darat.
Kini, pengetahuan itu perlahan kehilangan makna. Cuaca datang tanpa pola, gelombang meninggi tanpa peringatan, dan risiko kecelakaan semakin nyata.
Perubahan cuaca ekstrem dan sulit diprediksi menjadi dampak paling nyata krisis iklim yang dihadapi nelayan kecil di Kabupaten Takalar, Sulawesi Selatan.
Krisis ini bukan hanya persoalan lingkungan, tetapi juga persoalan sosial dan ekonomi.
Menurunnya hasil tangkapan, meningkatnya risiko keselamatan, serta keterbatasan akses bantuan membuat nelayan kecil berada dalam posisi paling rentan di tengah perubahan iklim yang semakin cepat.
Kondisi tersebut diperkuat oleh pandangan Ahli Lingkungan sekaligus Dosen Biologi Fakultas Sains dan Teknologi (FST) Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar, Prof. Dr. Hafsan, S.Si., M.Pd.
Ia menilai krisis iklim yang terjadi saat ini sudah sangat nyata dan dapat dirasakan langsung oleh masyarakat, khususnya di wilayah pesisir seperti Takalar.
Lingkungan tidak lagi berada dalam kondisi seimbang sebagaimana sebelumnya, ditandai dengan suhu udara yang semakin panas, cuaca yang mudah berubah, serta kondisi laut yang semakin sulit diprediksi.
Menurutnya, krisis iklim merupakan akumulasi panjang dari aktivitas manusia yang terus menghasilkan emisi gas rumah kaca.
Pemanasan global yang terjadi kemudian memicu perubahan pola angin, kenaikan suhu laut, serta meningkatnya intensitas cuaca ekstrem.
Kerusakan hutan, pencemaran, serta perubahan tata ruang pesisir turut memperparah kondisi karena mengurangi kemampuan alam menyerap karbon dan menghilangkan pelindung alami wilayah pantai.
Laut yang semakin hangat juga membuat kondisi cuaca menjadi lebih labil. Situasi yang tampak aman pada pagi hari dapat berubah drastis dalam waktu singkat.
Perubahan tersebut membuat nelayan tradisional semakin berisiko karena tanda-tanda alam yang selama ini menjadi pedoman tidak lagi dapat diandalkan.
Selain itu, perubahan suhu dan kualitas perairan mendorong pergeseran habitat ikan, sehingga nelayan harus melaut lebih jauh dengan risiko yang lebih besar.
Dosen Ilmu Perikanan Universitas Cahaya Prima Bone, A. Nadia Mughsitasani menjelaskan bahwa krisis iklim di sektor kelautan dapat dilihat dari berbagai indikator, seperti peningkatan suhu permukaan laut, penurunan stok ikan, perubahan distribusi ikan, berkurangnya produktivitas fitoplankton, serta meningkatnya frekuensi cuaca ekstrem yang tidak menentu.
Laut memiliki kapasitas besar dalam menyerap panas. Namun dalam kondisi krisis iklim, energi panas yang terserap melebihi kemampuan laut untuk melepaskannya kembali, sehingga suhu permukaan laut terus meningkat.
Perubahan ini berdampak langsung pada ikan yang bergantung pada suhu dan salinitas perairan, mendorong mereka berpindah ke wilayah yang lebih sesuai.
Perpindahan ikan tersebut membuat daerah penangkapan semakin jauh dari pesisir.
Waktu melaut menjadi lebih lama, kebutuhan bahan bakar meningkat, sementara hasil tangkapan justru menurun.
Kondisi ini memperberat beban nelayan kecil yang memiliki keterbatasan modal dan peralatan.
Bagi nelayan Takalar, perubahan iklim juga berarti runtuhnya pengetahuan lokal yang diwariskan lintas generasi. Musim angin yang dahulu dapat diprediksi dengan jelas kini tidak lagi pasti. Ombak tinggi dan angin kencang kerap datang tanpa peringatan.
“Punnah sassangmi di cinik langika intakma amparinrai kappalakku nampa ammotereka atau sengka naik ri pulau ammani-mania,” tutur Daeng Nga’go (25/11/2025).
Dampak krisis iklim paling cepat dirasakan di dapur rumah nelayan. Daeng Nai (61) mengaku penghasilannya kini jauh menurun dibandingkan masa lalu. Selama kurang lebih 30 tahun melaut, ia merasakan perubahan besar dalam beberapa tahun terakhir.
“Kalau besar ombakka tidak bisaki keluar, jadi masalah pendapatannga kurang, kadang besarji tapi tidak seperti dulu mi pengahasilan,” katanya (25/11/2025).
Untuk bertahan, Daeng Nai bekerja sambilan sebagai buruh bangunan atau memancing di dermaga. Strategi ini semakin umum dilakukan nelayan kecil, menandakan bahwa melaut tidak lagi cukup untuk menopang kebutuhan hidup keluarga.
Berbeda dengan Daeng Nai, Daeng Rapi (30) memilih tetap melaut meski ombak besar. Namun ia menyoroti ketimpangan distribusi bantuan pemerintah yang dinilainya belum menjangkau seluruh nelayan kecil.
“Bantuan ada, tapi tidak merata. Saya tidak pernah dapat, baik dari desa maupun perikanan. Karena bantuan itu berbasis kelompok dan proposal,” katanya (25/11/2025).
Krisis iklim tidak hanya berdampak pada ekonomi nelayan, tetapi juga merusak ekosistem laut. Penyerapan karbon dioksida berlebih menyebabkan pengasaman laut yang menurunkan pH perairan.
Kondisi ini mengganggu organisme bercangkang seperti kerang dan tiram. Selain itu, peningkatan suhu laut memicu pemutihan terumbu karang yang bersifat irreversible dan sulit pulih seperti semula.
Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Takalar, Nasruddin A mengakui krisis iklim menjadi ancaman nyata bagi nelayan.
Penurunan aktivitas melaut berdampak pada rendahnya produksi ikan dan penghasilan masyarakat pesisir.
Dampak lanjutan dari kondisi tersebut adalah potensi kenaikan harga ikan yang memengaruhi daya beli masyarakat luas.
Pemerintah daerah mengandalkan informasi cuaca dari BMKG yang disebarkan melalui BPBD hingga pemerintah desa.
Nelayan juga didorong menggunakan radio komunikasi agar peringatan cuaca ekstrem dapat diterima lebih cepat.
Pelatihan keselamatan laut rutin dilakukan, meski masih terkendala rendahnya kelengkapan dokumen kapal dan alat keselamatan.
Di tingkat nasional, pemerintah mendorong kebijakan Ekonomi Biru melalui Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor 28 Tahun 2021.
Kebijakan ini mencakup penangkapan ikan terukur, pengembangan perikanan budidaya berkelanjutan, konservasi laut, rehabilitasi mangrove, serta pemberdayaan ekonomi nelayan kecil.
Namun di lapangan, kebijakan tersebut masih menghadapi tantangan besar. Bagi nelayan kecil Takalar, adaptasi teknologi, diversifikasi ekonomi, dan penguatan kelembagaan belum sepenuhnya terwujud secara merata.
Bagi mereka, krisis iklim bukan istilah akademik atau laporan kebijakan. Ia hadir dalam bentuk cuaca yang tak lagi bisa dibaca, ombak yang datang tanpa aba-aba, serta hasil tangkapan yang semakin tak menentu.
Nelayan kecil berada di garis depan krisis paling terdampak, namun masih berjuang dengan sumber daya terbatas.
Di tengah laut yang berubah, perjuangan nelayan Takalar menjadi potret nyata bagaimana krisis iklim bekerja: perlahan, senyap, dan terus menggerus ruang hidup mereka dari hari ke hari.
Penulis : Dwi Syahrani
(Mahasiswa UIN Alauddin Makassar)