Dari Pesisir Terpencil Alor Hingga Membangun Harapan
Januari 05, 2026
GOWA, Foxnesia.com - Abdurrahman Law, yang akrab disapa Mann, lahir pada 29 Desember 1987 di sebuah desa pesisir terpencil di Kabupaten Alor, Nusa Tenggara Timur.
Ia merupakan anak keempat dari enam bersaudara dan anak laki-laki pertama dalam keluarganya. Terlahir dari orang tua mualaf yang sederhana ayah seorang petani dan ibu ibu rumah tangga Mann tumbuh dalam keterbatasan ekonomi dan akses pendidikan.
Pada usia enam tahun, Mann harus berpisah dengan keluarganya. Ayahnya mengirimkan ia ke sebuah yayasan pendidikan Islam di Kota Kalabahi agar memperoleh pendidikan agama yang lebih baik.
Keputusan itu menjadi awal perjalanan hidup yang berat bagi Mann kecil. Rasa rindu, keterasingan, dan perasaan ditolak sempat membuatnya berpikir bahwa ia bukan anak kandung orang tuanya.
Namun waktu perlahan mengubah segalanya. Dari yayasan tersebut, Mann kemudian dikirim ke Pondok Pesantren Ibnu Taimiyah di Jawa Timur. Selama tujuh tahun, ia menempuh pendidikan tanpa pulang kampung.
Hingga suatu hari, ketika ia kembali, barulah ia memahami alasan di balik ketegasan orang tuanya.
Sang ayah dengan linangan air mata mengungkapkan bahwa keputusan mengirim Mann ke pesantren bukan karena ketidakpedulian, melainkan karena harapan besar: ingin memiliki anak yang kelak mampu mendoakan dan membimbing orang tuanya dalam agama.
Kesadaran itu menjadi titik balik dalam hidup Mann. Ia melanjutkan pendidikan tinggi hingga akhirnya berkuliah di UIN Alauddin Makassar, jurusan Komunikasi dan Penyiaran Islam.
Masa kuliah bukanlah masa yang mudah. Ia pernah berada di titik terendah, hanya memiliki seribu rupiah, beras setengah liter, dan secangkir teh. Dalam keterbatasan itu, ia berserah diri kepada Tuhan.
Keajaiban pun datang melalui tangan-tangan sederhana para tetangga kos yang membantunya dengan makanan, beras, dan uang.
Dari bantuan itulah Mann memulai langkah kecil berwirausaha. Ia menjual makanan ringan dengan berjalan kaki di sekitar kampus. Usahanya berkembang, mulai dari berjualan jajanan, membuka distro, depot air minum, hingga mendirikan perusahaan CV Muara Kita yang menaungi berbagai unit usaha.
Tidak berhenti di sana, Mann juga mendirikan Yayasan Cinta Peduli Indonesia (CPI) sebagai wujud kepedulian sosial.
Kisah Abdurrahman Law adalah potret keteguhan hati, kesabaran, dan keyakinan bahwa keterbatasan bukanlah penghalang untuk bangkit.
Dari desa terpencil hingga menjadi pelaku usaha dan pegiat sosial, ia membuktikan bahwa harapan selalu menemukan jalannya bagi mereka yang tidak berhenti berjuang.
Penulis : Winda Sari