FOXLINE NEWS
Mode Gelap
Artikel teks besar

Banyak Anak Banyak Rezeki : Mitos Maut! Kenapa Gen Z Mulai Bilang “Marriage is Scary”


OPINI, Foxnesia.com - Di era di mana Instagram dan TikTok membombardir kita dengan foto-foto pernikahan mewah ala selebriti, lengkap dengan tagar #CoupleGoals dan janji-janji manis "bahagia selamanya sampai maut memisahkan", banyak pasangan muda yang terjebak dalam ilusi romantis yang membuat kita keluar kendali. 

Mereka buru-buru melangkah ke pelaminan tanpa memikirkan tanggung jawab yang pada akhirnya mereka penuhi, seolah pernikahan hanyalah pesta satu malam yang diakhiri dengan honeymoon di Bali. 

Tapi realitanya? Ribuan anak dibuang, terlantar, dan terjebak dalam kemiskinan karena orang tua yang tak siap berkomitmen. 

Sudah saatnya kita berhenti romantisasi ini dan tegaskan bahwa pernikahan bukan permamainan, tapi kontrak seumur hidup yang butuh tanggung jawab dan persiapan yang sangat matang. 

Jangan heran bahwa generasi berikutnya jadi korban mindset kolot "banyak anak banyak rezeki" yang justru membuat banyak penderitaan.

Mari kita lihat fakta yang menyakitkan. Menurut data Kementerian Sosial, pada 2020 saja, ada 67.368 anak terlantar di Indonesia, angka yang kemungkinan besar masih bertahan atau bahkan meningkat di tengah krisis ekonomi pasca-pandemi. 

Di Kota Malang, sepanjang 2025, tercatat 25-30 kasus anak terlantar yang dilaporkan, banyak di antaranya karena orang tua yang ceroboh membuang buah hati mereka seperti sampah. 

Lebih parah lagi, di Pekanbaru, 222 anak terlantar dan gelandangan ditangani sepanjang 2025, inilah mengapa betapa masalah ini sudah jadi epidemi nasional. 

Dan jangan lupakan tentang kemiskinan, Laporan dari UNICEF 2025 mengungkap bahwa 11,8% anak Indonesia hidup di bawah garis kemiskinan nasional, atau lebih dari satu dari sembilan anak atau sekitar 9 juta jiwayang kelaparan dan tak punya masa depan yang cerah. 

Bahkan, 37,4% anak mengalami deprivasi multidimensi, artinya mereka kekurangan akses pendidikan, kesehatan, dan tempat tinggal yang layak.

Mindset usang yang bilang “banyak anak banyak rezeki" adalah jebakan maut yang masih dianut banyak pasangan, terutama di kalangan tradisionalis yang menganggap anak sebagai investasi masa tua mereka. 

Di tengah romantisasi pernikahan di media sosial, di mana setiap pasangan tampak sempurna dengan filter dan pose dramatis, orang lupa bahwa membesarkan anak butuh duit, waktu, dan komitmen yang tak tergoyahkan. 

Hasilnya? Anak-anak jadi korban, seperti misalnya mereka yang dibuang di panti asuhan. Saya dengan tegas mengatakan “Kalau rezeki datang dari anak, mengapa jutaan anak miskin masih kelaparan?” 

Ucapan tanpa pertanggung jawaban hanyalah kelalaian yang diselimuti mitos agama yang dipelintir demi pembenaran kemalasan.

Untungnya, ada harapan dari generasi yang lebih cerdas Generasi Z khususnya. Data BPS 2025 menunjukkan tren penurunan drastis angka pernikahan. 

Dari lebih dari 2 juta pasangan pada 2018 menjadi sekitar 1,5 juta pada 2023, dan terus merosot hingga 2025. Sebanyak 71,04% pemuda usia 16-30 tahun belum menikah, naik signifikan dari 58,10% pada 2016. 

Mengapa? Karena Gen Z sudah melek dan muak dengan realita yang terjadi, mereka takut "marriage is scary" karena tekanan finansial dimana mereka takut akan kehilangan kebebasan, dan trauma dari cerita KDRT serta perceraian yang banjir di media sosial. 

Beberapa penelitian bahkan menyebutkan Gen Z lebih memprioritaskan karir, kemandirian, dan kesiapan mental daripada buru-buru kawin karena tekanan sosial mereka sadar bahwa komitmen tak bisa dibangun di atas mimpi basah media sosial, tapi butuh pemahaman yang sangat matang terutama soal nilai hidup, keuangan, dan tanggung jawab sebelum mengatakan "saya terima nikahnya".

Mulai sekarang mulailah belajar dan persiapkan tanggung jawab dan komitmen terlebih dulu dengan pasangan misalnya mulau dari bahas rencana keuangan, pendidikan anak, dan kesiapan emosional, sebelum melangkah ke pelaminan. 

Jika tidak, Anda hanya akan menambah data anak terlantar dan miskin, sambil pura-pura bahagia di Story Instagram. Gen Z sudah tunjukkan jalan bahwa kami akan Menikah tapi saat waktu sudah siap. 

Jika anda masih ragu, lebih baik jomblo daripada membuat generasi baru yang semakin menderita dan inilah saatnya masyarakat kita dewasa.

Penulis : Ryan Ramdani
(Mahasiswa UIN Alauddin Makassar)

Tulisan Tanggung Jawab Penuh Penulis


Tutup Iklan
Hubungi Kami untuk Beriklan