FOXLINE NEWS
Mode Gelap
Artikel teks besar

Saiful Amir, Suluh yang Tetap Menyala Setelah Pemiliknya Pergi


OPINI, Foxnesia.com - Ada guru yang mengajar lewat buku dan papan tulis, ada pula yang mengajar lewat petuah singkat atau pertemuan yang jarang. 

Namun ada sosok yang lebih langka, guru yang mengajar lewat hidupnya sendiri, sehingga kata-katanya, pilihannya, dan langkahnya menjadi kitab yang bisa dibaca siapa saja.

Bagi saya, Ustad Saiful adalah salah satu dari guru langka itu. Beliau bukan sekadar sosok cerdas, bukan pula hanya orang baik yang melakukan hal baik. 

Beliau adalah seorang pemikiran yang berjalan, seorang kader Muhammadiyah sejati yang tidak berhenti pada teori. 

Pada dirinya hidup warisan perjuangan KH. Ahmad Dahlan: bahwa iman tanpa amal hanyalah wacana; bahwa dakwah tidak berhenti pada kajian, tetapi harus turun menjadi gerakan, lembaga, dan manfaat nyata.

Saya menyaksikan sendiri bagaimana nama beliau melekat pada jejak-jejak yang kini tumbuh menjadi amal jariyah, berdirinya Lazismu Parepare, SD IT Ahmad Dahlan Parepare, dan berbagai ikhtiar yang hari ini berdiri tegak menjadi saksi bahwa idenya bukan hanya gagasan yang terdiam di kepala, melainkan sebuah visi yang diperjuangkan, diwujudkan hingga kini di wariska. 

Semua yang beliau bangun bukan hanya berkembang, tapi hidup, tumbuh, dan menghidupkan orang lain.

Kendati demikian, Ustad Saiful bukan tipe pemimpin yang semua orang mampu mengikuti ritmenya. 

Beliau melangkah kadang terlalu jauh, dengan pemikiran dan arah geraknya yang visioner, nasihatnya tegas, prinsipnya kokoh, hingga tidak semua sanggup mengikuti langkahnya.

Satu hal yang selalu terasa dari beliau adalah keseimbangan: keluasan ilmu agama yang dalam tetapi berpijak pada realitas; pemikiran modern yang tak tercerabut dari nilai-nilai tauhid; dan wawasan yang berpadu dengan akhlak ulama.

Dan dari banyak hal yang pernah beliau ucapkan, ada satu pesan yang kini terasa seperti wasiat :

“Jangan puas menjadi jamaah yang hanya mendengar. Muhammadiyah itu bergerak. Kalau kita tahu kebenaran, maka bangunlah sistemnya, gerakkan lembaganya, dan jadikan manfaatnya dirasakan manusia.”

Kata-kata itu kini terasa seperti amanah yang ditinggalkan. Menjadi pengingat bahwa warisan jariyahnya harus terus hidup. Setelah beliau pergi, tugas kitalah melanjutkan apa yang telah beliau bangun, bisa terus terasa manfaatnya.

Hari ini kita berduka bukan karena kehilangan, tetapi karena kita baru menyadari betapa besar keberadaannya selama ini.

Terima kasih, Ustad.
Terima kasih untuk nasihat yang mungkin dulu kami jawab dengan diam.

Terima kasih untuk kerja-kerja dakwah yang telah engkau contohkan.

Terima kasih karena telah hidup sebagai teladan, bukan hanya sebagai pengingat.

Semoga Allah merahmati perjalananmu, melapangkan kuburmu, mengangkat derajatmu bersama para ulama yang amalnya tidak berhenti, dan menjadikan seluruh gerakanmu sebagai amal jariyah yang mengalir hingga akhir zaman.

Penulis : Aditya Yusriadi, S.E., M.E
(Murid yang pernah dibimbing dan disadarkan oleh gagasan beliau)

Tulisan Tanggung Jawab Penuh Penulis
Tutup Iklan
Hubungi Kami untuk Beriklan